Mendadak lidah kemreces
pengen telor asin Brebes. Berhubung untuk menuju Brebes membutuhkan waktu sekita
4-5 jam dari rumah, walau naik jalan tol--terpaksa untuk menghilangkan ngiler saya menuju ke mini market
terdekat.
Lumayan, disana tersedia satu paket yang isinya dua telor
asin. Telur asin ini diproduksi oleh sebuah CV dari Tangerang. Harga eceran
perbiji 4500. Untuk reviewnya sebagai berikut:
1. BENTUK
Sama seperti telur Brebes. Bulet lonjong dengan warna biru
toska. Tidak kekecilan seperti telur ayam petelur apalagi ayam kampung. Tidak
kebesaran seperti telor mentoq (itik
manila) atau angsa. Pas dan akurat.
2. STEMPEL
Versi telur asin mini market tidak ada stempel khas telur
asin Brebes. Adanya stiker kecil dengan tulisan MS. Ibarat preman, nggak pakai
tatto permanen, hanya pakai tatto tempel.
Stiker, bukan stempel (dok. Hazmi Srondol) |
3. WARNA DALAM
Telur mini market warnanya sudah mirip yang di Brebes.
Kuning agak kecoklatan. Tanda ada proses pengabuan. Namun dilihat dari hasilnya
yang bagian putih tidak seakan-akan berlapis, dan tengah telurnya tidak
mengeluarkan cairan kuning kental--proses pengabuan sepertinya hanya 5-7 hari.
Sedangkan telor brebes 12 sd 14 hari. Bahkan pada edisi khusus full kolesterol
bisa sampai 21 hari.
Namun ini jauh lebih baik drpd telur asin yang dijual di
pinggir stasiun yang dalamnya tetap berwarna putih. Tanda membuat telor asinnya
tanpa melalui proses pengabuan. Hanya direbus dengan air garam.
4. RASA
Telur asin ini sudah sesuai standar rasa telur asin brebes.
Skala kemiripan rasa 75% dari versi brebes. Lumayan dari pada versi telur asin
pinggiran stasiun yang paling mentok kemiripannya rasanya 30%.
Jika dinilai dalam
khazanah per-telorasin-an, ada istilah masir untuk rasa dan tekstur dari kuning telornya. Menurut
penilaian saya, derajat ke-masir-an telur asin versi mini market ini adalah 70%
dibanding telur asin Brebes asli.
Demikian review kali ini. Selamat malam minggu bagi yang
sudah ada pasangannya.
Salam,
Hazmi Srondol - Blogger
Tidak ada komentar
Posting Komentar