Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

Membaca 'Takdir' Tuhan Lewat Sidik Jari (Finger Test Print)

Posted on Jumat, 18 Mei 2012 4 komentar
Kami semua menatap tajam cincin yang digantung dengan seutas tali di dalam gelas dan dibiarkan bergerak mengenai gelas yang berisi air setengah bagian.

“Yes, dua puluh tiga!” sorak salah satu teman pacarku.

“Egh! Empatpuluh dua” kata satu lagi sahabatnya dengan wajah memelas.

Aku menggeleng saja saat pacarku (sekarang istri) hendak melakukan ritual serupa. Aku hanya terkekeh melihat para perempuan itu mencoba meramal umur mereka akan menikah.

Ya, memang begitulah manusia. Ada satu hal yang tidak pernah habis dibahas, dari era rekiplik hingga era social media merajalela. Membaca takdir atau nasib namanya. Jika perempuan kebanyakan berusaha meramal usia pernikahan, dengan siapa menikah dan syukur-syukur suaminya adalah pangeran berkuda putih atau bermobil mercy putih laksana Pangeran William. Kalau para pria tidak jauh-jauh dari soal jabatan, posisi kerja yang cocok dan proyek yang  intinya adalah tentang nasib kantongnya kelak. Tebal atau tipis.

Memang, perdebatan soal takdir ini menjadi hal yang sangat seru. Ada yang pasrah mengikuti takdir atau yang setengah mati jungkir balik mencoba melawan takdir dengan bermagai macam cara. Dari yang normal dengan berkerja keras hingga yang ‘rada-rada’ seperti main dukun atau pengasihan.

Pertanyaan serupa tentu saja pernah kualami, aku saat itu lebih memilih untuk menjalani apa saja yang mesti dilakukan yaitu sekolah dan tentu saja melamar pekerjaan sesuai ijasah sekolah. Alhamdulillah, ‘takdir’ membawaku ke sebuah perusahaan yang termasuk bonafit di negeri ini.

Persoalan dasar yaitu finansial sudah mulai terselesaikan satu persatu. Walau belum berkelimpahan hingga meluber laksana Aburizal Bakrie atau Sandiaga Uno, setidaknya aku harus sangat bersyukur tidak menjadi sosok gembel di belantara Ibukota. Bisa bersahabat dengan kehidupan Jakarta sungguh sesuatu yang harus aku syukuri atas pemberian Tuhan semesta alam ini.

Namun, persoalan lain muncul yaitu saat menjadi seorang orang tua. Bukan lagi seorang suami, namun hadirnya dua Thole di keluarga kamilah yang membuatku menjadi banyak merenung. Sering kupandang dalam-dalam wajahnya saat mereka tidur dan bertanya tanya, bagaimana kehidupan mereka kelak? Apakah lebih baik dariku atau kelak menjadi bebanku dimasa tua?

Terngiang kata ‘Ayah Edy’ di siaran radio, “Setiap anak terlahir menjadi Jenius, tinggal kita lah sebagai orang tua yang harus bisa metani (mencari) sisi jenius itu”.

Aku terperangah. Ayah Edy benar, dan yang menjadi persoalan adalah bagaimana caranya metani kejeniusan anak? Dan dimana memulainya? Memang aku sedikit banyak bisa membaca tanda-tangan orang, but... itu terlalu terlambat untuk menunggu anak bisa dibaca tanda-tangannya. Bisa-bisa anak sudah setres disaat perjalanannya menuju ‘takdir/nasib’nya.

Hilir mudik aku mencari referensi, dari kitab suci, buku, bungkus kacang rebus hingga dukun maya (internet). Hingga suatu ketika tanpa sengaja saat kami sedang berbincang-bincang soal rencanaku mengajak anak untuk test psikologi ke psikiater untuk mencari bakat dan minatnya, mendadak istriku teringat tentang adanya cara baru membaca psikologi dari sidik jari, Finger Test Print istilahnya yang didapatnya dari milis ibu-ibu yang rajin di gelutinya.

...........

Kami menunggu giliran sambul duduk-duduk di teras sebuah rumah  di bilangan Pondok Indah, tidak jauh dari rumah juri Indonesian Idol—Ahmad Dhani. Setelah kami menunggu, akhirnya anakku dan aku mengikuti test itu. Sederhana saja, hanya cukup menempelkan satu persatu ke sepuluh jari ke sebuah alat pembaca sidik jari dan hasilnya langsung di rekam dalam laptop.

Aku sungguh terperangah, saat giliran anakku dan aku dibacakan karakter sidik jarinya, aku melihat apa yang disampaikan sangat akurat. Sisi-sisi kepribadianku yang selama ini aku abaikan ternyata muncul tertulis dengan jelas. Bahkan, disana juga dijelaskan persentase kuadran profesi ala Robert T Kiyosaki yang sesuai dengan karakterku.

Waktu itu aku belum sempat menanyakan, bagaimana sistem ini bekerja dan bagaimana cara membacanya. Antrian terlalu panjang dan rasanya sangat sungkan untuk melakukan sesi tanya jawab diluar agenda.

Untunglah, beberapa bulan yang lalu, saat istriku mengikuti bazaar di FX Plaza Jakarta yang dilaksanakan oleh komunitas Bundagaul.com aku melihat ada sebuah stand finger test print. Walau berbeda operator dan pemiliknya, namun kali ini aku berkesempatan berbincang-bincang dengan operator tersebut.

Penjelasan sistem ‘Analisa Sidik Jari’ adalah dengan membaca pola sidik jari yang terdiri dari pola : Arch/Tented, Loop, Double Loop, Concentric, Spiral, Press, Composite, Peacok Eye dan Whorl untuk melihat tipikal manajemen diri kita dan cara berelasi dengan orang lain.

Dari sinilah akhirnya aku sadar, perdebatan siapa yang menentukan takdir—manusia atau Tuhan terjawab.

Tuhan sudah memberi tanda berupa sidik jari yang langsung diberikanNya saat kita lahir. Namun dalam perjalanannya, lingkungan sosial membentuk pilihan manusia. Banyak juga yang sukses tanpa mengikuti pola talenta/bakat dalam sidik jari namun tidak kurang banyak yang merasakan ada ‘ganjalan’ di hatinya. Ganjalan itu bernama ‘passion’ atau ‘hasrat’.

Passion ini lah yang kadangkala beralih rupa menjadi sesuatu yang disebut ‘hobi’ diluar pekerjaan rutin yang dilakoninya sehari-hari.

Tidak heran, ada seorang pensiunan perusahaan minyak yang mengaku terkejut juga saat melakukan finger test print. Beliau dengan jujur mengatakan walau sukses berkarir, tetapi penasaran dengan bathinnya yang merasa kosong.

Beliau merasa, dirinya ibarat robot dalam bertugas. Hatinya tidak benar-benar mencintai apa yang dilakukan. Kalaupun ada rasa cinta, lebih banyak muncul karena tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Dan kini, setelah ‘tanggung jawab’nya selesai, beliau mencoba menjalankan apa yang sesuai terbentuk dalam sidik jarinya. Ajaib! Pencapaiannya lebih cepat daripada 27 tahun beliau berkerja sebelumnya.

..................

“Jadi bapak sekarang mengerti kenapa bapak suka sekali menulis, travelling dan bercerita? Bapak juga sudah mengerti kan bagaimana mengarahkan 'takdir' anak-anak agar lingkungannya besok sesuai?” kata istriku sambil tersenyum

“He-eh” kataku sambil mengemudi mobil menuju kota kelahiranku—Semarang.

“Berani alih profesi?” tantangnya.

“............” aku terdiam sambil menggeleng.

Kendaraan pun akhirnya berhenti. Aku termenung di perempatan lampu merah kota Tegal itu. Siapa juga yang berani keluar dari zona nyaman. Apalagi bekal belum cukup. Lamunanku ini mendadak terganggu dengan sura gerombolan motor besar Harley Davidson yang berhenti di sebelah kendaraan kami.

Aku menoleh dan melonggo. Ternyata pengemudinya tua-tua, tampak dari kumis dan janggut mereka yang tampak memutih dan keriput ibu-ibu di boncengannya. Aku kembali melamun.

“Buk, apa mesti bapak setua itu untuk bisa muter-muter naik Harley sambil goncengin ibuk?” tanyaku.

Istriku tersenyum saja. Aku menunggu jawabannya.

Do something big, pak! Ibuk kasih waktu maksimal sampai umur 40 tahun jadi karyawan. Setelah itu, buruan pensiun dini. Ibuk bantu kumpulin duitnya biar bapak bisa melakukan apa yang yang bapak sukai”.

Aku tersenyum lebar, pengertian sekali dia. Aku menghitung umur, itu tinggal 8 tahun lagi. Kami berdua tahu, persentasiku sebagai seorang self employee dan investor alias seniman, penulis, sutradara, artis atau apapun namanya ternyata jauh lebih besar daripada kuadran employee dan business owner.

Rasanya aku makin mencintai sosok yang kuibaratkan durian Jambi ini. Kuning, manis dan tentu saja memabukkan.

Hahay!

[Hazmi Srondol]

Perbandingan Tiga Tanda Tangan Presiden; Soekarno, Soeharto dan SB Yudhoyono

Posted on Minggu, 18 Maret 2012 Tidak ada komentar
“Tidak ada yang benar-benar rahasia di dunia ini, Le! Semua itu terbaca, termasuk tanda tanganmu! Elek tenan!” bentak keras bapakku waktu SMP dulu.

Aku hanya menunduk dan sedikit mengkeret dengan sorot pandangan mata bapakku yang tajam. Tatapan mata bak matahari di tengah hari bolong. Aku tak mampu menatapnya. Ibuku yang duduk disebelahku juga tampak terdiam. Sesekali hanya melirikku, tanpa membela apapun.

Saat itu, aku sangat kesal, marah sekaligus ketakutan. Tanda tangan yang berbentuk huruf M terbalik itu membuatnya gusar. Waktu itu aku tidak mengerti sikap ke otoriteran bapakku itu. Aku masih ingat, ada sekitar 4 lembar kertas folio di sodorkan dengan kasar di depanku, lengkap dengan pena jadul yang baru diisinya dengan tinta. Aku dipaksa untuk membuat tanda tangan baru. Banyak sekali yang aku coba. Dari model bapakku sendiri hingga model tanda tangan ibuku. Bapakku masih sangat tidak puas.

Malam itu sekitar ba’da maghrib, bapakku membeli sebuah buku menulis halus berwarna biru dongker dan sekali lagi, memaksaku menyalin sebuah sebuah cersil Kho Ping Ho dengan tulisan bersambung. Sumpah, jadul banget! Bahkan mirip tulisan orang tua. Setelah beberapa jam terkantuk-kantuk, akhirnya salinan itu selesai. Setelah itu, diprintahkannya kembali untuk membuat tanda tangan baru. Sepertinya cocok dengan tanda tangan baruku itu. Tanda tangan yang mirip dengan dengan model tanda tangan ibuku.

“Buang dua titik dan garis dibawah itu. Kamu pengen bapak ibumu cepet mati hah!!!” bentaknya lagi.

Akupun menurut. Kecuali garis dibawah tanda tangannya.

“HAPUS GARISNYA!!!”

Langsung aku mengkeret. Mirip bekecot yang disiram garam.

…….

Beberapa tahun setelah kedua orang tuaku meninggal, akhirnya aku sadar. Apa yang diminta almarhum bapakku itu ternyata adalah hal yang luar biasa. Ilmu membaca tanda-tangan yang beliau miliki ternyata di jaman sekarang menjadi sesuatu yang sangat menarik. Bahkan nama inggrisnya pun keren, yaitu ‘Graphology’.  Nggak kalah keren dengan kata astromony, geology ataupun biology. Bahkan seni membaca tanda tangan ini konon sudah menjadi bagian dari ilmu psikologi dan tak jarang aku menemui jasa pembacaan karakter lewat tanda tangan untuk penerimaan pegawai baru di perusahaan-perusahaan besar.

Lebih menariknya, di kampus Universitas Urbino, Italia; Universitas Automonus di Bercelona, Spanyol maupun  Instituto Superior Emerson, Buenos Aires, Argentina menawarkan akridasi untuk gelar grapolog ini. Kalau tidak salah bergelar MA dan BA di bidang Graphology.

Buku teknik dan teori membaca tanda tangan ini sudah banyak aku lihat di toko-toko buku. Banyak detail yang diungkap dalam buku-buku tersebut. Akupun mempunyai beberapa koleksinya. Walaupun setelah dibaca, kajiannya sangat rumit dan sepertinya memoriku tidak cukup untuk menghapal semua. Cuman sedikit mengorek teknik membaca tanda tangan dari almarhum bapakku sebelum meninggal, bagiku sepertinya teknik beliau jauh lebih mudah aku pahami.

Menurut beliau, setiap orang itu mempunyai cetak biru dalam jiwanya. Cetakan ini yang membuat tubuh akan bereaksi pada syaraf-syaraf motorik kasar dan halusnya. Bentuk tanda-tangan adalah hasil cetak biru mini dari keseluruhan jiwa dan karakternya. Untuk membacanya dengan cepat, menurut beliau, mesti mengikuti ‘getaran’ energy yang dihasilkan dari bentuk tanda-tangan tersebut. Pembaca tanda-tangan harus memposisikan sebagai penulis tanda-tangan.

Dan sepertinya aku paham sekarang, bapakku membuat pola terbalik yaitu merubah tanda tangan agar cetak biru kepribadianku juga ikut berubah. Untung saja, walau dulu sempat malas-malasan diajarin olah rasa. Kini sedikit banyak apa yang yang dipelajari dari Almarhum bapakku bisa aku manfaatkan, setidaknya pada saat meeting aku bisa meraba karakter peserta meeting dari absensi nya. Banyak konflik dan kemungkinan sakit hati bisa dihindarkan dengan mencoba memposisikan diri agar tidak berbenturan dengan karakter lawan bicara.

….

“Coba le, bandingkan tanda-tangan bung Karno dan pak Harto. Itu contoh tanda tangan yang bagus dan kuat!” kata beliau saat menunjukan foto copyan tanda tangan Bung Karno dan Pak Harto. Aku manggut-manggut saja waktu itu saat bapak menjelaskan perihal tanda tangan dua tokoh bernama depan huruf yang sama yaitu huruf ’S’ itu.

Dimana menurutnya, Bung karno memang sejak lahir, kecil, besar dan tuanya terlahir masuk dalam lingkaran kekuasaaan. Pribadi yang terbuka dan jelas dibaca kemauannya seperti membaca namanya di tanda tangannya. Namun sayangnya, ada satu titik kecil di ujung tanda tangannya yang berarti kematian atau penghabisan. ( Hmm, jadi penasaran dengan tanda titik diujung nama Putra Sampoerna, apakah akan berarti sama? Yaitu akan ada penghabisan karir/bisnis Sampoerna Grup?). Dan anehnya, menurut beliau juga, nama Bung karno akan hidup kembali setelah masa kematiannya Hal ini digambarkan dengan adanya garis pendek di belakang titik.

1331999864273129071

titik kecil diujung tanda tangan Putra Sampoerna


Untuk Pak Harto memang terdapat beberapa kesamaan dengan Bung Karno. Pribadi yang mantab dan tegas. Masa kecil yang suram dan sengsara. Namun hebatnya, takdirnya mampu memisahkan dan menghapuskan masa kecilnya. Jelas terlihat dengan satu titip pemisah dari huruf S pertamanya. Selanjutnya mudah di tebak, pertengahan umurnya di lalui dengan gemilang dan mencapai puncak pencapaian yang tertinggi.

Cuman menjelang masa tuanya, kepribadiannya sedikit berubah. Sikapnya menjadi penyendiri dan jarang berkomentar. Kalaupun berkomentar akan terdengar tajam dan menusuk perasaan yang mendengarnya. Saat mencapai puncak kejayaan keduanya, halangan besar menusuknya hingga runtuh. Namun yang menarik, menurut Almarhum bapakku--semenjak sebelum lahir, terlahir hingga meninggal, ada yang memantau keberadaannya, bahkan boleh dibilang memusuhi. Namun anehnya, saat beliau meninggal arah berbalik menjadi merindukannya. Hal ini digambarkan dengan garis berbalik arah di bawah tanda-tangannya.

Dari dua tokoh berhuruf depan S itupun akhirnya menyisakan sedikit rasa penasaran bagiku. Ada satu lagi presiden yang berhuruf depan S yaitu Pak SBY. Aku sering membanding-bandingkan tanda-tangan beliau dengan kedua tokoh sebelumnya.

Konon, tanda tangan SBY juga termasuk tanda tangan yang bagus. Berkepribadian kuat dan mempunyai masa lalu (kecil) yang sangat well organized. Tertib dan sangat jelas. Pemilihan nama yang ‘Yudhoyono’ yang berarti seni berperang lebih ditonjolkan daripada nama ‘Susilo Bambang” yang berarti pertapa/pemimpin yang santun. Memang terlihat di pertengahan umurnya banyak terlibat dalam lingkarang kekuasaan yang sedikit rumit. Bahkan akan sempat ada penurunan pada ujung karirnya. Walau yang mengejutkan, garis penutup yanda tangannya sangat jelas dan mencerminkan kekuatan kebangkitan dan kemuliaan menjelang ajalnya.

Sungguh andaikan almarhum bapakku masih hidup, ingin sekali aku berdiskusi kembali soal tanda tangan presiden yang ketiga dengan huruf depan S ini. Disamping mereka sama sama berhuruf depan sama tetapi ketiganya aalah tokoh besar yang menyimpan banyak ilmu untuk dipelajari.

Namun ada satu temuan jenis tanda tangan yang menarik juga di salah satu blog. Kalau yang satu ini tidak perlu merindukan almarhum Bapak untuk diajak diskusi. Orang awam pun akan tahu, tanda tangan yang ruwet  dan mendominasi lembaran Akte kelahiran itu berarti.. lebaaayyyyy…..

13319999531548856972




[Hazmi Srondol]

Jeritan Pak Guru di Papua Itu Didengar Operator Seluler

Posted on Sabtu, 15 Oktober 2011 Tidak ada komentar
"on the jet plane. approved 2 site. happy?”

Sebaris pesan pendek SMS masuk di hapeku. Pesan yang sontak membuatku berteriak kegirangan dan langsung kubalas dengan kalimat norak “VERY VERY VERY HAPPPYYYY!” dan membuat istri dan anakku terkaget-kaget. Maklum, malam ini listrik di komplek rumahku sedang padam dan suara berisik sebuah genset tua bermesin 2-tak penuh asap itu biasanya membuat suasana rumah suram dan tidak nyaman.

Setelah sedikit meredakan kegembiraan, akupun menjelaskan ke istriku soal pesan dari salah satu pejabat dari operator seluler Indosat. Pesan pendek yang bermakna besar, karena ‘approved 2 site’ berarti disetujuinya pembangunan 2 site BTS (Base Tranceiver Station). Sebuah alat besar, lengkap dengan antena tingginya yang berfungsi untuk menjembatani perangkat ponsel dari suatu jaringan ke jaringan lainnya.

Hal yang tentu sangat diluar dugaanku. Sebelumnya aku fikir saat aku membaca artikel dari mas Arif Lukman Hakim, seorang guru muda yang ditugaskan di Karas, Fak-Fak, Papua di blog keroyokan Kompasiana yang menceritakan betapa susahnya masyarakat ditempat pak guru Arif mengajar mendapatkan sinyal telefon seluler. Artikel yang kemudian aku kirimkan kepada para pihak dan pejabat Indosat. Sempat jantung mpot-mpotan saat tahu bahwa informasi yang aku masukan sedikit terlambat karena sudah akan berakhir program CSR (Corporate Social Responsibility) nya di tahun 2011 ini.

Belum lagi beberapa pertanyaan tentang lahan dan warga yang bersedia membantu menge-lap panel listrik tenaga surya untuk BTS yang konon memakai type khusus untuk daerah terpencil. Ditambah lagi informasi soal biaya pembangunan tiap satu BTS yang mencapai angka milyaran rupiah. Sudah, makin putus asa saja rasanya.

Namun, malam ini siapa yang sangka. Ternyata Indosat mendengar jeritan warga distrik Karas, Fak-Fak Papua. Tidak tanggung-tanggung, 2 BTS sudah disetujui untuk dipasang dan diinstal di Distrik Karas dan Kampung Tarak. Hmm, serasa ini kado yang harganya milyaran rupiah dari Indosat yang kudengar dari berita jika pelanggannya kini sudah mencapai 50 juta.

Ah, terbayang sebentar lagi ku bisa teleponan dan sms-an dengan pak guru Arif dan masyarakat Karas disana. Tak perlu lagi kini menelefon penyiar RRI Fak-Fak hanya untuk meminta tolong mengirimkan kabar ke pak guru Arif seperti sebelumnya. Dan ponselpun disana akan kembali kepada fungsi utamanya yaitu telefon dan SMS, bukan pemutar musik MP3 dan main games saja. Yang konon dari cerita pak guru Arif, walau tiap rumah disana sudah punya rata-rata 2 ponsel tapi memang begitulah saja fungsinya.

Waduh, ini sama artinya membeli kulkas dan dipakai sebagai lemari pakaian karena tidak adanya listrik. Cuman bedanya, ponsel warga disana tidak ada SIM card di slot kartunya.

BTS

.....

“Jadi kapan BTS nya jadi pak?” tanyaku mengejar

“Paling lambat akhir Februari 2012 Insya Alloh mas sudah bisa nyala sinyalnya” jawabnya ditelefon

“Kok lama amat? Gak bisa cepetan lagi?”

“Ya kita harapkan kontraktor pelaksana bisa bergerak cepat mas. Kalau mereka bergerak cepat bulan Desember tahun ini juga bisa selesai”

“Gak bisa November depan pak?”

“Jangankan November mas, besok pagi juga bisa kelar mas. Tapi kalau pekerjanya jin lho ya... bukan manusia!” Jawabnya diseberang.

“E....”

[Hazmi Srondol]

Note:

1. Tulisan pak Guru Arif perihal Pembangunan BTS dari sudut pandangnya :-) --> Berita Panggilan Untuk Nusantara

2. Berita dr ANTARA Manado perihal BTS di pulau Karas, Fakfak, Papua Barat :-) --> Indosat Hadir di Karas dan Kampung Tarak Papua Barat

Menjaga Nasionalisme Lewat Odong-Odong

Posted on Minggu, 19 Juni 2011 Tidak ada komentar
Pertama kali aku pindah ke Bekasi ini, aku mempunyai tetangga yang pekerjaannya sangat berbeda dari tetangga yang lain.

Tetanggaku ini bekerja sebagai penarik/pengenjot odong-odong. Odong-odong yang terbuat dari modifikasi becak yang diberi hiasan kepala garuda dan dilengkapi seperangkat sound system ala kadarnya dengan speaker keras dan memekakkan telinga.

Tetanggaku itu pun lebih dikenal dengan panggilan Pakde Odong-odong. Suara keras odong-odong Pakde selalu mengagetkanku disaat hari libur atau sore disaat aku tidak masuk kerja. Kadang-kadang disaat santai dan leyeh-leyeh di depan rumah, Pakde ini bukannya segera pergi tapi malah berhenti didepan rumahku.

Mentang-mentang tinggalnya satu deretan dengan rumahku. Mentang-mentang dulu juga orang Semarang sepertiku, Pakde ini kalau bertemu suka mengajakku ngobrol ngalor-ngidul tidak karuan. Bahkan kadang pembicaraannya aneh bin ajaib sekaligus sok tahu.

Contohnya saat Pakde Odong-odong bercerita kalau dirinya bakal berumur panjang. Katanya, dia diramalkan akan berumur sampai 107 tahun. Tentu saja demi suasana aman dan tentram aku mengiyakan saja. Malas berdebat, paling hanya berkomentar pendek seperti:

“Enak dong Pakde, tahu bakal berumur panjang begitu” kataku ala kadarnya alias basa basi lebih tepatnya

“Enak apaan?” jawabnya sambil bersungut.

“Loh, kan bisa berumur 107 tahun” kataku keheranan.

“Masalahnya aku sekarang masih berumur 47 tahun, mas Ndol”.

“Lha trus?”.

“Lha berarti aku masih 60 tahun lagi dong sengsaranya? Lama bener hidup melaratnya” jawabnya dengan wajah serius.

Sumpah aku jadi ngakak dalam hati. Ngakak dan langsung memberikan penghakiman kalau odong-odong itu adalah sebuah alat wirausaha yang konyol, norak, koplak dan sangat menganggu. Tidak jauh-jauhlah dari image yang sangat melekat pada sosok Pakde Odong-odong ini.

Namun pada suatu sore di hari minggu, Pakde Odong-Odong kesleo engkel kakinya saat bermain voli di lapangan RT. Akibat kesleo, Pakde mau tidak mau harus pensiun dini sebagai penarik becak Odong-odong. Dari RT dan RW, pakde diangkat menjadi satpam perumahan untuk membantu mencarikan solusi pekerjaan baru yang cocok untuk Pakde.

Aku sempat girang, suara berisik speaker itu menghilang untuk beberapa saat. Tapi ya cuman beberapa saat saja. Setelah itu ternyata malah bermunculan odong-odong baru dengan bentuk dan variasi yang makin aneh-aneh lagi.

Ada yang mirip kuda-kudaan, mandi bola, bianglala dan lain sebagainya. Tentu sja lengkap dengan sound system dengan suara yang memekakkan telingan.

Hal menjengkelkan ini akhirnya jadi bahan pembicaraan dengan sopir kantorku yang hari itu mengantarku pulang ke rumah. Aku menceritakan kejengkelan-kejengkelan kepada odong-odong ini. Dari modelnya yang norak, maksa dan lebay.

Bayangkan saja, ada model berupa kereta Thomas And Friend tapi kok keretanya ada gambar rambut kuncungnya di depan. Lha ini menabrak pakem. Coba kalau yang punya lisensi nya tahu, apa nggak marah-marah tidak karuan?

Namun entah kenapa, tampaknya sopir kantorku ini tidak sependapat denganku. Dia malah memuji-muji adanya odong-odong ini. “Coba dengar lagu dari speaker sembernya pak?” katanya.

“Iya, emang kenapa?”.

“Tuh, pasti lagu yang diputar lagu anak-anak ama lagu nasional” jelasnya.

“Lha terus?”.

“Lha berarti odong-odonglah penjaga jiwa ceria sekaligus penjaga nasionalisme anak-anak Indonesia pak” jelasnya.

Aih! Aku jadi malu bukan kepalang.

Ternyata benar apa kata sopirku ini. Dari dalam mobil aku mendengar beberapa odong-odong memutar lagu anak-anak yang memang untuk anak-anak. Bukan lagu dewasa yang dinyanyikan anak-anak. Bahkan ada odong-odong lain masih menyetel lagu nasional dengan kerasnya di sudut yag lain.

Aku terdiam, makin tambah malu. Aku yang mengaku nasionalis ini, bahkan sampai namaku di FB pun aku tulis “Hazmi Srondol Indonesia Banget” pun tampak seperti orang bodoh dimata sopir kantorku.

Mosok sampai esensi sederhana soal nasionalisme dari adanya odong-odong ini luput dari perhatian.

Rupanya aku ini terlalu sok-sokan berkutat membahas hal-hal yang ketinggian dan jauh dari membumi. Padahal di depan mata, ada beberapa orang yang kreatif mencari rejeki dengan berwirausaha, ladang rejeki dengan 7 pintunya, yang lebih banyak hanya sekedar menjadi buruh atau pegawai sekaligus pelestari lagu anak dan lagu nasional yang sudah jarang disiarkan di televisi atau jangan-jangan di sekolahan juga.

***

Senayan, Piala AFC 2010

“Gimana mas? Sudah hapal kan lagu yang bapak nyanyikan tadi?”.

“Lagu yang mana?” tanyanya balik.

“Itu, Lagu Garuda Di Dadaku yang bapak dan orang-orang bareng-bareng nyanyikan!” jelasku.

“.....” Thole diam saja, entah mengerti atau malas menjawab pertanyaanku.

Sungguh aku kecewa sekali. Padahal beberpaka kali mas Thole ini aku ajak menonton langsung pertandingan itu agar anakku bisa merasakan atmosfir saat menyanyikan lagu Indonesia Raya serta lagu koor penyemangat yang Indonesia banget. Tapi ya sudahlah, aku menyimpan kesal dan jengkel. Bahkan sampai keesokan harinya dan berakhir saat tiba-tiba mas Thole menyanyikan lagu Mars suporter Timnas PSSI seperti ini:

Garuda di dadaku Yarabe Sorendoreri Ku yakin hari ini pasti menang..

Apuse kokon dao Tunjukkan keinginanmu Wuf lenso bani nema baki pase

Aku mendadak jadi kaget, heran dengan cara mas Thole menyanyikan lagu itu dengan nada berselang—seling dengan lagu daerah Papua itu. Aku juga heran, darimana mas Thole tahu kalau lagu itu mempunyai nada irama yang sama.

“Mas!”

“Iya Bapak”

“Kok tahu lagunya miripi Apuse? Tahu dari maa?”

“Dari odong-odong yang lewat bapaaaaak!” jawabnya sambil berteriak.

Aih, aku maluuuuu sekali!

[Hazmi Srondol]

Buku: Antara “SUBWAY” ala Novel Ouda Saija dan MRT Jakarta

Posted on Tidak ada komentar
Tepat sesaat kendaraan yang aku kemudikan berjalan tidak lebih dari 1 km dari rumah, mendadak aku menerima pesan pendek di Blackberry dari istriku. Pesan yang sangat mengejutkan, pesan yang ternyata kabar datangnya sebuah surat dari Amerika tepatnya dari Chicago.

Langsung saja aku menelepon balik dan menanyakan siapa gerangan pengirimnya dan apa isinya.

Diseberang telefon istriku memberi kabar jika ternyata isinya adalah sebuah buku berjudul “EVIL EYES ON THE SUBWAY” karya sahabatku nun jauh disana, Om Ouda T. Ena yang sering aku panggil 'prof Ouda' karena aliran tulisan flash fiction yang berbentuk sebuah cerita pendek yang tak lebih dari 500 kata.

Cerita yang digarapnya selalu meninggalkan bekas memori dan imajinasi yang jauh lebih panjang dari kata-katanya. Khas garapan orang ber-itelejensi tinggi ala profesor-profesor di kampus-kampus perguruan tinggi. Andaikan saja tidak ada janji Kopdar di TIM dengan teman-teman  sebelumnya, tentu aku sudah berbalik arah dan kembali ke rumah untuk segera membaca kumpulan cerita pendek ini.

Eit, jangan berprasangka kalau aku menulis kata-kata diatas hanya untuk menyenangkan hati sahabatku ini. Tapi memang ada hal yang membuat aku memang sangat membutuhkan cerita tersebut. Hal tersebut adalah soal kata SUBWAY di judul sampul buku itu.

Sudah bukan rahasia lagi memang aku termasuk anggota 'roker' Bekasi alias rombongan kereta KRL sebagai sarana transportasi utamaku menuju ke kantor. Sudah begitu, sudah setahun terakhir aku terlibat dalam proyek relokasi utilitas jaringan fiber optik kantorku yang bersinggungan dengan proyek MRT Jakarta alias Mass Rapit Transport yang merupakan proyek subway pertama di Indonesia.

Dimana proyek tersebut merupakan proyek pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan pembiayaan dana-nya sebagian besar dari Jepang (JICA) dengan skema Special Term for Economic Partnership (STEP).

Dalam berbagai seminar dan meeting koordinasi yang aku ikuti perihal ini, aku sering menerima paparan baik berupa file cetak maupun video yang menggambarkan pembangunan tahap 1 (Lebak Bulus- Bundaran HI)-nya yang sepanjang 15, 7 Km dengan bagian bawah tanahnya sekitar 5,9 Km. Dan panjang ini seperrtinya akan di perpanjang sampai Stasiun Kota jika pembangunan tahap 1 nya tidak menemui banyak masalah.

Nah, dari beberapa paparan tersebut membuatku sering berandai-andai atau membayangkan bagaimana kirannya suasana dalam stasiun dan kereta subway tersebut. Walaupun pernah merasakan sedikit pengalaman naik kereta subway di luar negeri, tapi rasanya masih belum memuaskan. Terlalu sedikit sudut pandang yang aku lihat.

Dan di novel ini, aku menemukan kepuasan tersendiri. Banyak istilah-istilah tentang kereta subway aku temukan dari nama stasiun seperti Roosevelt Station, Chichago station, Red line train station, Filder Street Station atau istilah lain seperti subway tunnel dan lain sebagainya.

Belum lagi memang setting beberapa ceritanya banyak yang berlatar belakang suasana baik stasiun maupun di dalam kereta subway itu sendiri. Sekali lagi, langsung terbayang jika kata-kata didalamnya adalah Senayan Station, Istora Station, Bendungan Hilir Station dan lain sebagainya.

Bahkan lebih gawatnya, aku mendadak juga membayangkan kisah asmara nyata di subway New York dimana ada seorang ahli design web bernama Patrick Moberg dari Brooklyn yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada sosok gadis cantik yang ia temui di kereta subway Manhattan dan sayangnya dia kehilangan jejak dan untuk menemukan sosoknya dia menyebarkan sketsa gadis tersebut di internet.

Ajaib, dalam waktu 48 jam, atas bantuan email, chat dan telefon dari warga New York akhirnya gadis itu dapat di temukan. Ternyata gadis berambut pirang itu adalah Camille Hayton dari Melbourne, Australia.

Nah, jadilah kisah mereka disebut sebagai kisah “Romeo Bawah Tanah” yang sangat terkenal di dunia maya abad ini.

Kembali kepada soal buku Prof Ouda ini, gambaran lain kisah di sekitar subway banyak terwakilkan dan tentu saja kisah-kisah didalam buku ini bakal menginspirasi penulis lain dalam mencari setting latar belakang cerita baik fiksi maupun non fiksi jika MRT 'subway' Indonesia sudah selesai pembangunannya. Tentu dengan cita rasa ala Indonesia.

Termasuk juga aku sendiri. Jadi, siapa cepat dapat. Hehehe...

Namun begitu, dibalik kehebatan buku ini, terdapat juga sedikit kekurangannya. Kekurangannya adalah soal bahasa, maklum saja semuanya berbahasa Inggris. Dan untuk peraih nilai TOEFL pas-pasan asal sesuai standar masuk kerja sepertiku, perlu sahabat lain dalam membaca buku ini yaitu kamus dan tentu saja mbah google translator. Heheheh...

[Hazmi Srondol]

Kisah Nyata: Mengeluarkan Batu Ginjal Tanpa Operasi

Posted on Kamis, 13 Januari 2011 8 komentar
Sekitar awal tahun ini tiba-tiba aku merasakan nyeri dikaki serta lututku. Saking nyerinya, sempat aku hampir terjatuh dari KRL saat hendak turun di stasiun. Rasa nyeri ini juga semakin tidak nyaman dengan perut yang sering ayang-ayangen saat hendak buang air kecil.

Istriku sempat cemas saat hari Jumat pagi (7/1/2011) aku tidak sanggup mendirikan sepeda motorku saat hendak berangkat ke stasiun hingga akhirnya ia melarangku untuk berkerja pada hari itu.

Saat aku meminta ijin pimpinan di kantor untuk tidak masuk kerja, beliau menyarankan dengan sedikit memaksa agar aku segera memeriksakan diri ke rumah sakit. Beliau bilang feeling-nya kurang enak melihat penampilanku akhir-akhir ini di kantor yang sedikit kurang cerah, apalagi beberapa bulan terakhir memang banyak sekali jobdesk yang aku harus aku selesaikan.

Bahkan terkesan sedikit ngoyo. Sesampainya di rumah sakit dokter yang memeriksaku memintaku untuk cek darah dan tes USG. Diperkirakan aku terkena asam urat dan kristal asam urat tersebut mengumpul menjadi batu ginjal.

Betapa terkejutnya saat hasil laboratorium keluar. Ternyata betul, hasil cek darah menunjukan kadar asam uratku mencapai 10,7 mg/dL. Jauh diatas rata-rata 3,5 sd 7,2 mg/dL. Dan lebih menyesakkan lagi, terlihat 4-5 butir batu di ginjal sebelah kiriku.

Alamak, ternyata bukan Gunung Merapi saja yang memuntahkan lahar dingin berupa batu dan pasir, kini di tubuhku juga mengalami fenomena yang sama.

Dengan wajah kecut aku membayangkan lagi betapa sedihnya bakal menginap di rumah sakit plus biaya operasi yang mahal. Saat itu, 3 th yang lalu di ginjal kananku ditemukan 2 butir batu ginjal. Untuk mengeluarkan dan memecah batu ginjal tersebut, aku mesti merogoh biaya operasi tembak laser lebih dari 25 juta rupiah. Lha bagaimana jika batunya lebih banyak?

Tentu saja dengan sedikit panik, aku segera mencari informasi di internet cara memecah dan mengeluarkan batu ginjal di tubuhku tanpa operasi laser lagi. Dari berbagai macam informasi baik jamu, ramuan maupun herbal aku akhirnya memilih pengobatan melalui meminum rebusan rebung (tunas) bambu kuning.

Menurut info dari situs tersebut, rebusan air rebung bambu kuning sangat ampuh untuk mengobati kencing batu dan batu ginjal. Dan salah satu alasan kenapa memilih cara tersebut karena besok siangnya kakakku yang tinggal di Semarang akan mengunjungiku ke rumah.

Tentu saja akan lebih mudah mencari rebung bambu kuning dari pasar tradisional di Semarang mengingat Semarang mempunyai makanan jajanan tradisional Lumpia yang memang menggunakan rebung sebagai bahan dasar pengolahan makanan tersebut.

Alhamdulillah, kakakku dengan mudahnya menemukan rebung tersebut dengan harga yang cukup murah, hanya 10 ribu rupiah/kg nya.

Setelah rebung tersebut aku terima, aku segera mengangin-anginkannya sebentar. Berhubung rebung datangnya malam hari, aku tidak sempat menjemurnya. Langsung aku potong tips-tipis seperti keripik dan aku rebus dengan air sebanayak 3 gelas dan menunggu asat hingga tersisa 1,5 gelas.

Setelah air tampak berwarna kenuningan seperti tea, aku segera meminumnya.

Sebenarnya aku hampir saja muntah dan kesendak. Maklum saja, baunya dan sangat aneh. Pesing dan gimana gitu. Dari anjuran untuk meminum 2 gelas, aku hanya mampu meminum segelas saja. Malam hari dan keesok harinya belum begitu terasa manfaatnya.

Namun saat siang hari, saat hendak berangkat kopdar ke PGC mendadak aku merasakan ayang-ayangen yang sangat hebat. Bahkan sampai tidak bisa uang air kecil. Mirip tandon air yang penuh namun kran nya mampet. Saking tidak tahannya, aku sore harinya akhirnya dibawa istriku masuk ke UGD.

Sesampainya di UGD aku meraung kesakitan dan diberi infus yang sudah diberi suntikan obat pereda rasa sakit. Agak mendingan, walau susah dan mesti dibantu dengan memijat-mijat perut aku dapat mengeluarkan sidikit air kencingnya.

Dokter UGD merujukku untuk segera dioperasi laser lagi dan besok harinya sekitar jam 2 siang aku akan di foto ronsent BNO-IVP untuk memperjelas posisi batu ginjal tersebut. Ya sudah, aku pasrah saja, toh aku sudah berusaha dan ikhtiar meminum jamu rebung tersebut. Jika akhirnya gagal ya nggak papa.

Lalu malam harinya, sambil ber-tweeter-an dengan teman-teman. Aku menitipkan pesan agar aku didoakan supaya besok tidak perlu operasi dan bisa pulang dengan segera. Aku berharap, Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk memberikan sedikit mukjizat0Nya. Dan tampaknya Mbak Inge dan mbak Mariska Lubis serta beberapa temanku sepertinya benar-benar khusus dan ikhlas mendoakanku.

Terbukti besok paginya sekitar jam 10 siang, 2 jam setelah anakku marah-marah dengan memukul-mukul perut dan kakiku sambil berteriak “Batu nakal! Ayo keluaaar!” berulang kali akhirnya aku merasakan ada sesuatu yang 'mengganjal' akan keluar.

TING!

Aku mendengar suara benturan kecil di closet. Aku berteriak senang seperti Archimedes! Aku melihat batu sebesar biji buah kurma serta beberapa serpihan pasir ada didasar kloset tersebut. Dan anehnya, tak ada darah yang keluar bercampur air seniku. Subhanallah!

 

12948612871261992739

serpihan batu ginjal yg sempat di foto


Hilang rasa jijikku dan aku memungut batu dan serpihannya dan mencucinya untuk aku serahkan ke Dokterku. Akupun akhirnya bisa buang air kecil dengan leganya siang itu. Rasanya aku semakin yakin bahwa ikhtiar rebusan rebung bambu kuning itu, walau tidak sempurna meminum 2 gelas lebih serta doa kami sekeluarga dan teman-temanku telah berkerja dengan baik.

Akhirnya, setelah dilakukan foto ronsen, dokter yang memeriksanya jadi kebingungan karena batu-batu yang tampak di USG tidak tampak di foto ronsennya. Ya sudah, apapun yang ada dibenak pak dokter. Aku tidak perduli, aku hanya perduli saat beliau dengan tegas menyatakan aku dipersilahkan pulang ke rumah dan operasi lasernya dibatalkan. Alhamdulillah. :-)

 

1294861433258223146

foto ronsen, batu ginjal tdk terlihat


***

“Bapak ngapain nata-nata baju, pak?”

“Bapak pulang hari ini, mas”

“Bapak nggak menginap lagi disini?”

“Enggak”

“Jadi kita nggak bisa berenang dong pak”

“Emang nggak bisa”

“Kok nggak bisa?”

“Ya ini kan rumah sakit mas, bukan hotel”

12948615071406025081

Senangnya dibeliin buah ama Thole. Dibeliin doang, yang makan tetep dia juga :D


[Hazmi Srondol]

Restoran 'Fast Food' Tercepat di Dunia Ada di Indonesia

Posted on Jumat, 20 Agustus 2010 Tidak ada komentar
Sebelum datang era wisata kulinarnya om Bondan Winarno, sempat negeri ini dirasuki oleh budaya makan ala Amerika. Budaya makan yang di istilahkan dengan makanan cepat saji atau 'fast food’.

Seingat aku, pertama kali yang aku kenal adalah produk Kentucky Fried Chiken (KFC) yang iklannya sering muncul diawal-awal siaran TV Swasta RCTI sekitar awal tahun 90-an. Kalau tidak salah di acara film kartun Doraemon.

Lalu muncul lagi produk dari California Fried Chiken yang sekarang juga disingkat CFC. Nah, setelah itu muncul banyak merk lainnya. Beberapa yang aku ingat kurang lebih Texas Chiken, Wendys, Popeyesdan yang sangat fenomenal menurutku ya Mc Donald yang sering di sebut McD.

Kesemua produk yang aku sebut diatas sebenarnya produk sederhana yaitu ayam yang di beri tepung lalu digoreng. Entah apa istimewanya, sampai iklannya begitu gencar sehingga sempat menjadi standar gaul anak muda waktu itu.

Padahal, model makanan seperti itu sudah sejak lama aku memakannya. Bahkan jauh lebih enak dari pada fried chiken-fried chiken tersebut yaitu tempe mendoan, pisang goreng dan tahu susur goreng yang sangat enak rasanya. Penjualnya pun tidak jauh dari rumahku di Semarang sana.

Bahkan kadang aku sempat berfikir untuk menanyakan kembali serifikat paten dari fried chiken tersebut karena bisa jadi mereka mencuri ide dari tempe mendoan dan pisang goreng yang sering aku makan, cuman mereka ubah tempenya menjadi ayam saja.

Sudah begitu, pengaruh iklan dan pembentukan budaya ala fast food ini sempat membuatku makin kesal. Bagaimana tidak. Sudah modelnya meniru tempe mendoan, mereka sepertinya menghina bangsaku ini. Seakan akan hanya konsep makan merekalah sajalah yang punya standar produksi yang sama di setiap cabangnya. Dan paling menjengkelkan, mereka menganggap makanan cara merekalah yang paling cepat pelayanannya.

“Mana ada makanan lokal yang pelayanannya secepat fast food ini, Ndol?” .

“Ada!” jawabku mantab.

“Ayo tunjukan”, katanya lagi.

“Boleh, taruhan juga boleh”, kataku mulai gerah, maklum jiwa nasionalismeku sedang diusik.

“Ok…!”

***
“Ayam paha 2, nasi 2, minum 2, mbak”, katanya ke mbak kasir.

“Baik pak, semuanya 60 ribu rupiah. Mohon ditunggu!”, kata mbak nya sambil menerima uang pembayaran.

“Hitung Ndol!”, perintahnya.

Akupun mengitung waktu dari stopwatch di henpon untuk mencatat waktu pelayanan sejak pemesanan. Tak beberapa lama pesananpun selesai disajikan dan diletakkan di nampan.

“Gimana Ndol? Cepat kan?”, tanyanya dengan senyum puas mengembang.

“Lumayan, 3 menit 12 detik”, jawabku.

“Kok kamu dingin begitu Ndol? Emang ada makanan lokal yang lebih cepat?".

“ADA!” kataku makin mantab.

***

“Ayo itung waktunya”, kataku sengit.

“E…. “, katanya sambil menunduk kalah sambil melirik tumpukan menu hidangan yang tergelar di meja.

Ya, inilah masakan fast food tercepat didunia. Dimana yang lain baru meng-klaim mampu melayani kurang dari 60 detik.

Tapi di restoran ini, belum sempat pesan makanan sudah terhidang. Restoran inilah yang di Nusantara ini dikenal dengan nama:

RUMAH MAKAN PADANG”

[Hazmi Srondol]

Thole, Awas Kejepit !!

Posted on Selasa, 13 Juli 2010 1 komentar

“Bapak, obat nyamuknya habis! Tolong beliin dong pak!”, teriak istriku didalam kamar.
“Iya buk, beli dimana jam setengah sepuluh begini?”
“Indomaret ruko depan masih buka pak. Alfamart juga. Buruan pak, kasihan Dedek pak!”.
“Iya buk!”, kataku sambil buru-buru mengambil kunci mobil.

Baru memegang handle pintu mobil. Munculah Thole sambil berlari mengejar. Haduh, pertanada nambah anggaran neh.

“Aku ikut, bapak!”, pinta Thole antara memaksa dan memelas.
“Hmm, boleh. Tapi NO jajan, NO Nangis!”, kataku mengiyakan tapi dengan syarat.
“Iyah….”, katanya sambil buru-buru menrobos pintu kanan mobil.

Aku geleng-geleng saja melihat kelakuan Thole.

……..

“Mas! Jangan mainan tombolnya!”, perintahku terkaget-kaget melihat Thole menaik turunkan jendela mobil.
“Kenapa bapak?”, tanyanya
“Ntar kejepit!”.
“Kok kejepit?”.
“Iya, itu jendelanya pakai Power Window!”, teriakku.
“Buat apa Power Window?”, tanyanya
“Itu nutup jendela otomatis”, jelasku

Thole terdiam. Sepertinya dia ngeri juga dengan ekspesi ku menjelaskan betapa bahayanya memainkan saklar power window mobil.

Hmm, salahku juga tadi lupa mengunci fungsi power Windownya.

…..

“Permen Sugus Bapak!”, rengeknya di dalam minimarket.
“Tidak!”, jawabku dengan menggeleng sambil sedikit melotot.
“Lolipop!”, pintanya lagi.
“Tidak!”, jawabku lagi.
“…..”, Thole terdiam dengan wajah mulai mewek, tanda mau menangis.

Aku mesti belajar tega. Masak mau diomelin ibuk mulu soal ‘inkonsisten’ ngadepin Thole. Ibuk suka komplain kalau katanya aku suka sok galak didepan namun langsung ngalah ngadepin tangisan Thole.

Tapi malam ini, aku sukses konsisten untuk tidak membelikan Thole Sugus atau Lolipop kesukaaannya.
Sampai dalam mobil sepertinya Thole kesal sekali. Dia terdiam sampai mobil masuk garasi lagi.

…..

“Bapaaaaak! Mas Thole nggak mau pakai cancut neh pak!”, teriak ibuk lagi.
“Kenapa buk?!”, tanyaku.
“Tadi ngompol, sekarang dipakain celana tapi nggak mau pakai cancutnya!”, jelas ibuk lagi.

Aku melirik ke arah Thole yang malah kabur masuk kamar.

“Mas pakai cancutnya!”, perintahku.
“Tidak!”, tolaknya galak.
“Nanti kejepit titit nya maas!”, kataku mulai kesal.
“Tidak!”,
“Eeee… Kok ngeyel!”
“Tidak bapak! Tititku tidak bakal kejepit! Celanaku nggak ada power window-nya!”, jawabnya ngeyel.

Halah!

Thole… Tholeeeeee!

[Bekasi, 13 Juli 2010]

Diposting juga di KOMPASIANA
Don't Miss