Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

Ironi Kesuksesan Festival Jajanan Bango 2013 di Semarang

Posted on Senin, 01 April 2013 Tidak ada komentar
Kami agak terseok-seok saat berjalan menuju lapangan Diponegoro, tempat dilaksanakannya hajatan Festival Jajanan Bango 2013 di Semarang.

Kalau tidak diberitahu adik sepupuku, mungkin aku akan terheran-heran dengan padatnya pedagang dadakan di jalan samping stadion tersebut. Katanya, semenjak para pedagang kaki lima di sekitar simpang lima di gusur—maka lokasi samping stadion inilah yang digunakan sebagai tempat relokasi pedagang asongannya.

Relokasi yang selain berfungsi untuk merapihkan kota, secara tidak langsung berfungsi juga untuk membubarkan habitat “ciblek” yang sempat membuat wilayah Simpang Lima mendadak identik dengan sisi malam yang negatifnya. Untuk arti ciblek versi ini, jelas bukan arti harfiah burung kecil yang berterbangan—lebih jelasnya monggo cek sendiri-sendiri di mbah google. Hehehe…

Untung saja aku terbiasa berdesak-desakan saat berangkat kerja naik kereta KRL, jadi tidak terlalu kaget. Hanya sebatas rasa heran saja. Toh, keterkejutan sudah dihabiskan saat berangkat dari bandara menuju Semarang dihari sebelumnya. Ya siapa yang tidak kaget, aku terbiasa melihat pelayan rumah makan memakai ID card dan seragamnya. Aku juga terbiasa melihat bulu mata palsu.

Namun jika melihat pelayan yang memakai ID card bernama dan berseragam cowok itu memakai bulu mata palsu gede ala Syahrini—sumpah aku tidak terbiasa. Bahkan binggung saat membayar dan menerima uang kembalian makanan di café pojokan luar terminal 2 Soekarno Hatta tersebut. Bingung mesti bilang mas atau mbak saat mengucapkan sambungan yang lazim digunakan sebagai pelengkap kata belakang “terima kasih, mas/mbak” nya.

Keterkejutan yang juga bertambah saat akhirnya tahu lokasi acara tersebut bersebelahan dengan bekas kantor departemen dimana dahulu almarhum Ibuku berkerja sebelum beliau meninggal dunia. Benar-benar acara kegemaranku (makan-makan) ini sangat menyenangkan sekaligus mengudak-udak emosi masa lalu.

Antara kerinduan yang menggebu dan rasa bersalah karena sampai beliau meninggalkan kami, beliau belum sempat melihat pencapaian-pencapaian yang kuraih serta belum sempat melihat kedua cucu nya yang berwajah tampan dan gagah seperti anak lelaki satu-satunya ini. Boro-boro berbakti menaikan haji—merasakan gaji atau honorku saja tidak pernah.

Rasa bersalah yang akhirnya membuatku membuat peraturan khusus di rumah, peraturan jika anak-anak boleh berdebat dengan bapaknya, mengeyel jika memang alasannya logis dan masuk akan bisa diterima, tapi jangan sekali-kali terhadap ibuknya. Keras hukumannya. Bisa-bisa anakku mesti duduk dua jam di kursi plastik hukuman dan dijauhkan dari semua mainan, gadget serta komputer tempatnya biasa main internetan. Sebuah siksaan berat untuk anak seusianya.

Nah, kembali ke soal acara—setelah melewati kepadatan pedagang asongan kini aku juga kembali terheran-heran. Bayangkan saja, acara yang resminya dimulai pukul 9 pagi namun satu jam sebelumnya sudah padat pengunjung. Meja dan Kursi pengunjung pun sudah terisi, kalau pun hendak duduk—kebanyakan sudah di tag ala di facebook.

“Ada yang duduk, pak” katanya sambil memegang kursi kosong tersebut yang di atasnya di beri tanda tas kresek. Tas kresek yang entah isinya apa, mungkin sekedar untel-untelan kertas koran bekas. Wong jelas di acara kuliner ini, semua makanannya langsung saji. Jarang yang dibungkus untuk dibawa pulang. Konsep tagging ini pun hampir semua sudut meja kutemui.

Sepertinya Mark Zukerberg mesti berterima kasih dan berbagi royalti dengan warga Semarang yang memberikan inspirasi untuk konsep penandaan tagging di aplikasi socmed buatannya. Hal yang sempat membuatku ngomel-ngomel panjang sebelum diingatkan saudara jika waktu kecilku juga begitu, lebih parah katanya. Malah sampai menandai kursi dengan kapur dan spidol biar tidak dipakai orang lain. Eit, hampir lupa kalau darah Semarangan masih kuat mengalir di urat nadi. Hehehe…

Antusiasisme masyarakat yang masih menyisakan keheranan lagi. Padahal masya Alloh, panasnya TKP luar biasa. Bahkan panasnya kota Semarang itu berbeda loh ya dengan panasnya kota Jakarta atau Surabaya yang sama-sama berada di pinggir pantai. Sekedar informasi, kota Semarang ini terbagi dua wilayah yaitu Semarang bawah dan Semarang atas. Semarang atas identik dengan daerah perbukitan yang tinggi dimulai dari daerah Gombel hingga gunung Ungaran.

Kondisi grografis inilah yang diperkirakan menjadi penyebab panasnya ini. Udara pantai tidak tertiup ke daerah lain ke selatan, tetapi berbalik kembali ke kota karena terbentur perbukitan. Wajar jika panasnya kota Semarang menjadi kuadrat. Istilah bahasa Jawanya, selain panas namun juga sumuk.

Kata ‘sumuk’ ini aku belum menemukan padanan kata yang pas dalam bahasa Indonesia. Lebih baik sekali-kali mencoba hadir ke kota ini untuk merasakan sensasi sumuk kota bawah Semarang. Kata adik sepupu--Spa alami untuk melangsingkan badan. Hehehe…

Keramaian pengunjung ini ternyata bukan hanya saat awal pembukaannya saja, namun hingga terakhir saat aku meninggalkan acara ini sekitar ba’da maghrib—antusiasnya tidak berkurang. Bahkan bertambah besar hingga sekitar pukul 5 sore sudah banyak stan yang sudah kehabisan stok. Tak heran ada beberapa pengunjung mengomel karena setelah lama antri di salah satu stand lalu kehabisan saat gilirannya memasan tanpa pemberitahuan.

Belum lagi beberapa ocehan tentang susahnya mencari penjual minuman saat menjelang sore. Hingga banyak pengunjung akhirnya membeli minuman di luar acara atau sudah mempersiapkan botol minuman karena sebelum masuk sudah diberitahu kerabat atau saudaranya jika didalam acara akan kesulitan mendapatkan minuman.

Terlepas dari komplain kecil ini, setidaknya satu sisi terlihat jika hajatan oleh kecap Bango ini bisa dibilang sangat sukses. Membludaknya pengunjung seperti tidak diduga oleh panitia jika berdasarkan cepat habisnya  stok makanan dan minuman  yang dipersiapkan. Saya menduga ukuran stok nya sama dengan ukuran hajatan Warisan Kuliner Nusantara di lokasi sebelumnya seperti Surabaya atau Malang.

Namun sayangnya, dibalik kesuksesan acara tersimpan ironi yang berkebalikan dengan kondisi ‘bango’ yang lain.

Seperti kita tahu, semenjak kecap merk “Bango” diakuisisi oleh Unilever tahun 2001, pertumbuhannya sangat luar biasa. Jika di bandingkan dengan merk kecap ABC, maka di hitung sejak tahun 2002 sampai dengan tahun 2007—Kecap ABC anjlok penguasaan pasarnya di Indonesia dari 69% menjadi 33%.

Sedangkan Bango malah naik dari 20% menjadi 32%, berimbang posisinya dengan kecap ABC di tahun itu. Dan untuk akhir tahun 2012 sendiri, saya belum mendapatkan data jelasnya, namun dengan tagline “hadir di rumah setiap keluarga Indonesia” serta grafiknya--kita bisa menebak seberapa besar penguasaan dan kenaikan pasarnya.

Kenaikan yang ternyata tidak berimbang dengan jumlah ‘bango’ penghuni pohon di kawasan Srondol, Semarang. Tak jauh dari tempatku dilahirkan. Burung bango yang disebut oleh warga Semarang dengan nama burung ‘kuntul’ ini sungguh mengenaskan nasibnya. Eit, jangan mikir yang jorok-jorok yah karena namanya nyrempet ungkapan kasar kelamin pria. Lha wong, memang sejak aku kecil, memang begitu kami menyebutnya.

136477625124503386

Burung Kuntul Srondol



Seingatku dulu seaktu masih kecil, sekitar tahun 90-an. Jumlah burung kuntul yang bersarang di pohon depan markas batalyon infantri Yonif 400/Raiders (Banteng Raiders) ini jumah mencapai ribuan. Masih jelas dalam memori masa kecilku, betapa ajaib kuntul-kuntul ini berputar-putar seperti angin tornado sebelum hinggap di barisan pohon angsana, asam atau mangga tersebut. Suara mirip berkoteknya nyaring dan menjadi kebanggaan dan ciri khas tersendiri bagi warga Srondol - Semarang.

Namun kini jumlahnya hanya berkisar 200 an saja. Padahal, dari 6 jenis burung keluarga bango langka didunia—4 diantaranya berada di kawasan Srondol ini yakni kuntul besar (Egretta alba), kuntul perak (Egretta intermedia), kuntul kecil (Egretta garzetta), dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis).

Dua jenis lainnya adalah kuntul karang (Egretta sacra) yang banyak di jumpai di kepulauan Karimunjawa dan kuntul china (Egretta euphoes) yang jelas dari namanya tidak ada di Indonesia.

Sedangkan satu jenis bango lain yang juga mulai langka lagi adalah bango Storm (Ciconia stormi) yang kebetulan dipakai sebagai logo kecapmilik Unilever ini. Namun bango yang ini lebih beruntung—jikalau kelak punah, setidaknya wujudnya masih tetap diingat karena ada jutaan gambar bango jenis ini di botolnya.

Kadang sempat berfikir untuk memberikan usulan ke Unilever perihal logo ini agar memakai logo bergambar jenis bango lain yang langka ini di produk turunannya seperti kecap asin atau kecap pedasnya. Toh selain bisa mempermudah pembeli membedakan jenis kecapnya juga sekaligus wujud tanggung jawab telah memakai merk dengan nama burung legendaris kota Semarang ini.

Apalagi nama “bango” yang dipakai itu tidak sembarangan.

Disamping burungnya yang memang mulai langka, kisah dibalik burung ini sangat luar biasa. Salah satunya adalah kisah Sadako Sasaki, seorang gadis cilik dari jepang yang saat berusia dua tahun negaranya terkena bom Atom. Bom yang radiasinya menyebabkan ia menderita sakit leukimia. Hingga pada saat sakitnya semakin parah, di usia 12 tahun ia masuk rumah sakit dan membuat origami berbentuk burung bangau.

Rencananya, ia akan membuat 1000 burung bango kertas sebagai upaya penyembuhan penyakitnya. Hal ini ia lakukan karena ia percaya dengan cerita kuno dari negaranya Jepang, jika ia membuat burung kertas sebanyak itu maka ia akan sembuh dari penyakitnya. Namun sayangnya, baru sampai 644 burung ia buat, ajal sudah menjemputnya. Hal ini membuat para sahabat dan kawan-kawannya berduka lalu meneruskan kegiatan ini hingga selesai 1000 burung kertas terbuat.

Untuk mengenangnya, kawan-kawannya mengirimkan catatan dan surat untuk penggalangan dana pembuatan monumen untuk peringatan bahaya dampak penyalah gunaan atom/nuklir untuk senjata pemusnah masal bagi anak-anak sedunia. Akhirnya, pada tahun 1958, patung Sadako yang memegang burung bangau emas dipajang di Taman Monumen Perdamaian Hiroshima, yang disebut Genbaku Dome dengan plakat dikakinya yang berbunyi:

Kore wa bokura no sakebi desu. Kore wa watashitachi no inori desu. Sekai ni heiwa o kizuku tame no yang artinya"Ini adalah seruan kami. Ini adalah doa kami. Untuk membangun kedamaian di dunia."

Sedangkan di Semarang atau masyarakat Jawa umumnya juga terdapat pepatah yang berbunyi :"Golekana tapake kuntul mabur" (carilah telapak kaki bangau yang terbang).

Sebuah sanepan (peribahasa) yang merupakan salah satu cabang ilmu kesempurnaan. Ilmu yang harus didapatkan melalui tirakat dan laku karena melihat telapak burung bangau terbang adalah sebuah kemustahilan kecuali kita mengosongkan diri dari ikatan logika dunia melalui jalan awal kesabaran. Kesabaran melihat pertanda alam saat sang burung akan mendarat. Saat dimana telapak kaki itu baru terlihat.

[embed]https://www.youtube.com/watch?v=maDf5uEXwh8[/embed]

Mengosongkan diri yang juga dalam etimologi Tionghoa disebut wu wei dan dalam bahasa Jepang disebut Mushin (Mu = tiada/tanpa; Shin = hati/pikiran). Atau lebih sederhananya dalam bahasa Indonesia adalah kata ‘ikhlas’.

Jadi tak heran yang suka menonton film Kungfu Panda akan paham kenapa dalam film tersebut, ternyata jurus rahasia yang diperebutkan ternyata hanyalah gulungan kertas putih kosong. Kertas kosong yang berarti emptiness/nothingness atau ikhlas itu sendiri sebagai titik kesempurnaannya.

Nah, jadi bukan suatu kebetulan kan jika acara wisata kuliner dari kecap Bango ini dimulai pertama kali di Semarang? Acara yang pernah dilaksanakan sekitar bulan Mei 2005 karena (kebetulan) kedekatan filosofis dan etimologis. Walau sayangnya, baru terulang setelah hampir 8 tahun berlalu. Saking lamanya, sehingga banyak sekali kawan-kawan yang tidak tahu dan menganggap acara tahun ini adalah yang pertama kali di Semarang.

Ironis.

[Semarang, 1 April 2013]

 

Membongkar Kode Istana Atlantis di Museum TMII

Posted on Minggu, 24 Maret 2013 Tidak ada komentar
Saya melongo.

Terkejut luar biasa dengan sebuah penjelasan pendek tentang suku Asmat yang tertempel di dinding dekat pintu masuk Museum Asmat di TMII ini.

Lha siapa yang tidak kaget, plus rasa gembira yang luar biasa. Gembira akhirnya saya mendapatkan referensi lain yang lebih orisinil dan asli sesuai apa adanya tentang suku Asmat di Papua ini. Bukan informasi standar ala wikipedia atau kebanyakan informasi yang beredar di buku atau media massa lainnya.

Harap maklum, sudah terlalu lama bangsa Indonesia ini di kerdilkan. Bertahun-tahun kebesaran masa lampau Nusantara disembunyikan. Jikalau mendadak muncul bukti-bukti kejayaan ini, data dibelokkan persepsinya atau malah sekalian dikaburkan.

Coba cek pandangan bangsa lain tentang Indonesia sekarang ini. Pasti pandangannya ya begitu-begitu saja, dari tubuhnya yang mungil, berkulit gelap yang diidentikan dengan kotor, masyarakatnya yang primitif dan bertelanjang dada kemana-mana dan hal-hal yang negatif lainnya. Semua ini tujuannya sederhana saja—ingin membuat bangsa ini tidak percaya diri dengan kemampuannya.

Jika sudah tidak percaya diri, tentu mudah sekali menjadikan bangsa ini menjadi bangsa terjajah. Baik terjajah secara ideologi, politik, budaya maupun ekonomi. Boro-boro negosiasi—untuk berdehem saja jadi sungkan dihadapan mereka.

Dan di museum Asmat TMII ini, akhirnya saya bisa menemukan salah satu bukti kesengajaan mereka mengkerdilkan bangsa Indonesia ini. Digambarkannya suku Asmat sebagai suku primitif dan kuno. Lebih parahnya—dianggap suku kanibal, pemangsa sesama manusia.

Padahal buktinya apa? Apa hanya karena ada ada foto suku Asmat tidur beralaskan kepala tengkorak manusia? Lha apa bedanya dengan kita yang mungkin kerja atau tinggal di perumahan bekas kuburan atau pemakaman?

Informasi kanibalisme ini pun setelah aku coba telusuri, sungguh mengagetkan. Informasi ini hanya berdasarkan pada kata ‘konon’ dan ‘katanya’ saja. Konon dan katanya dari pendapat suku lainnya. Lebih menyesakkan lagi, cap kanibal ini di perkuat denga kejadian hilangnya  satu anggota keluarga Rockefeller-- salah satu keluarga terkaya di dunia. Keluarga yang mensponsori dan mendonasikan keuangannya untuk pendirian lembaga terbesar di dunia bernama PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Michael Clark Rockefelle yang melakukan ekpedisi di Papua sekitar akhir tahun 1961 memang hilang, tapi apakah memang betul karena di kanibal suku Asmat? Jangan-jangan hanya hilang karena dicaplok buaya atau diterkam harimau. Atau jangan-jangan malah dibunuh pemandunya yang dari belanda itu hanya gara-gara ongkos hantarnya tidak cocok?

Jepretan Layar 2015-07-26 pada 02.27.28

Kalaulah memang hendak dijadikan ‘bahan makanan’, kenapa mesti berulang kali ia ke pedalaman Papua sambil wira-wiri membawa ukiran khas suku Asmat? Belum lagi, banyaknya foto mas Michael ini yang asyik bermain kamera dan dikeliling wajah orang Asmat yang tampak ramah dan tersenyum lepas?

Nah, berita hilangnya ini satu sisi memang mengangkat nama Papua dan Asmat di seluruh dunia. Namun jika dikaitkan dan menjadi cap kanibal tentu merugikan dan berlebihan. Kadang saya jadi gemas dan pengen diadakan penelusuran sejarah yang sangat menyesatkan ini oleh pihak-pihak yang netral dan kompeten.

Sedangkan kita tahu, kasus-kasus kanibalisme di dunia dan di eropa terjadi karena pelakunya menderita penyakit kejiwaan. Sarap tingkat akut. Dan mungkinkah manusia-manusia dengan kejeniusan seni, seni mengukir, ukiran tanpa sketsa namun hasilnya luar biasa? Yang menjadi koleksi hampir semua museum dan rumah seni dunia? Itu disebut sakit jiwa? Oh no, tidak saudaraku sebangsa dan setanah air. Tidaaaaak!

1364248773341157756

Oke, jika memang masih dianggap suku Asmat primitif hanya gara-gara memakai koteka—yuk kita lihat makna dan filosofi kehidupan suku Asmat yang tertempel di museum Asmat TMII ini. Disana dijelaskan bahwa:

“Orang Asmat sangat menghormati pohon. Bagi mereka, pohon adalah kehidupan. Mereka mengangap dirinya pohon dan sebaliknya, pohon adalah diri mereka. Mereka mengibaratkan akar pohon itu sebagai kaki, batang sebagai badan, ranting sebagai tangan dan buah adalah kepalanya. Itulah alasan mengapa orang Asmat menyebut dirinya sebagai as-asmat yang berarti manusia kayu atau manusia pohon atau asmat-ow, yang berarti manusia sejati.”

Hmm, tunggu. Ini sangat penting dan essensial. Hal yang sangat filosofis dan bukan main-main. Hal yang menyangkut ‘kelas’ manusia dimata Tuhannya. Manusia sejati. Dimana penjelasan tambahannya tertulis:

“Kehidupan orang asmat tidak dapat dipisahkan dengan alam sekitarnya. Mereka meyakini sejatinya manusia itu harus bersatu dengan alam. Mereka pun menyebut dirinya sebagai ‘ow Kanak Anakat’ yang artinya “Akulah Manusia Sejati”…”

Sungguh, saya sempat terdiam lama didepan penjelasan ini. Mendadak teringat Plato yang mengatakan serupa, tentang fungsi akal budi untuk menyelaraskan dengan alam dan menuju ke Sang Baik (Tuhan). Filosofi TAO juga berujung hal yang sama, bahkan filosofi ‘menyatu dengan alam semesta’ dalam ajaran Tao adalah tujuan utama manusia hidup dan menjadi sempurna sebelum bertemu Tuhannya.

Kita juga bisa melihat filosofi menyatu dengan alam ini pun menjadi filosofi utama Bushido (jalan pedang/ksatria) para Samurai (ksatria Jepang). Bagi mereka, ketika mereka sudah ‘menyatu dengan alam’ maka ia akan mencapai tingkat tertinggi dalam ilmu dan jajaran para Samurai.

Tak heran jika dahulu rakyat Jepang sangat menghindari pembuatan jalan berkelok kelok dan lebih menyukai pembuatan tunnel (terowongan) untuk jalur kereta/transportasi. Mereka khawatir, pembangunan yang menyakiti pohon dengan menebangnya akan berarti menentang alam. Pilihan bijak dan terbukti sukses membawa Jepang sebagai salah satu negara dengan sistem transportasi terbaik di dunia.

Nah, bagi yang masih belum puas dengan pembanding diatas, coba cek lagi istilah ‘moksa’ atau ‘mukti’ dalam ajaran Hindu. Konsep serupa pun terlihat disana. Kondisi penyatuan atman dan brahman menuju kebebasan rohani dan jiwa tanpa keterikatan dengan dunia dan materi. Kondisi yang juga menjelaskan tentang menyatunya manusia dan alam semesta ini sebagai tanda kesempurnaan manusia.

Bahkan dalam dunia tasawuf pun, konsep ma’rifat juga mirip dengan konsep Asmat ini. Pada tingakatan pemahaman spritual manusia, tiap orang mempunyai level tersendiri. Dari terendah yaitu level syariat—dimana seremoni ritual ibadah dan pemahaman terhadap Tuhan hanya berdasarkan text book atau kata-kata yang tertuang pada ayat Al Qur’an semata. Lalu meningkat pada level pemahaman ke hakikat, yaitu pemahaman makna dibalik kata atau arti mendalam dari sebuah ayat Al Qur’an.

Dan akhirnya masuk kedalam level tertinggi yaitu ma’rifat—sebuah kondisi dimana manusia sempurna ibadah syariat-nya, jelas pemahaman hakikatnya dan akhirnya bersatu dengan alam—“berputar” seperti gerakan galaxy dan tata surya sebagai bentuk bertasbih dengan seluruh nafas dan jiwany kepada Tuhan pencipta alam semesta. Dan saat itu adalah saat yang dinanti-nantikan, saat dimana terbukanya hijab (pembatas) antara Tuhan dan mahluknya.

Nah, Jika dikaitkan dengan tingkatan itu—bisa saya artikan bahwa filosofi orang Asmat seperti melompat beberapa tingkat. Langsung ke level tertinggi.

Jadi, masih pantaskah kita yang sama-sama satu bangsa ini menganggap orang Asmat primitif dengan kedalaman filosofi hidupnya? Apakah kita masih merasa jika kita memakai jas dan mereka memakai hiasan ala pohon-pohonan berarti kita lebih canggih daripada mereka? Bisa jadi, kitalah yang masih ‘primitif’ karena dangkal pemahaman esensi kehidupannya dan mudah terbawa opini penjajah.

Sungguh, akhirnya tersisip rasa kagum dengan orang Asmat ini. Bahkan saya sempat saya bertanya-tanya, agaimana pemahaman menyatu dengan alam ini bisa sampai kepada mereka?

Rasanya tak mungkin jika mereka tahu dengan seketika. Ujug-ujug ngerti. Seperti menemukan batu di pinggir jalan saja.

Saya menduga, jauh sebelum kita dan mereka saat ini telah ada peradaban tinggi yang menguasai seluruh wilayah Nusantara ini. Termasuk di wilayah Papua dan suku Asmat didalamnya. Peradaban yang memberikan pengajaran filosofi tinggi kepada leluhur suku Asmat. Peradaban yang telah membuat Nusantara ini sudah begitu teratur dan tertib dengan adat dan istiadatnya. Bahkan kearifan lokal ini tampak mudah menyatu dengan ajaran-ajaran agama baru yang kemudian hari masuk ke wilayahnya.

Dan saya menduga, budaya dan kearifan lokal ini adalah peninggalan kebudayaan yang oleh Plato disebut dengan kebudayaan “ATLANTIS” .

Ya, saya tahu. Sepertinya terdengar bombastis.

Tapi jika melihat banyaknya penemuan baru perihal bukti-bukti keberadaan Atlantis di Nusantara ini, seperti yang tertuang dalam buku Atlantis The Lost Continent Finnaly Found karya Prof. Arisio Santos dari Brazil dan buku biru berjudul EDEN In The EAST karya Prof. Sthepen Oppenheimer dari Oxford University sepertinya memang benar bahwa Nusantara ini memang Atlantis yang hilang. Hilang dengan timeline waktu yang sangat jauh belasan ribu tahun kebelakang.

Apalagi setelah sebagian sejarawan dan arkelog Indonesia berani menggugat penjelasan standar ala penjajah perihal arti relief di Candi Borobudur di Magelang dan Candi Cetho di lereng gunung Lawu. Candi yang merupakan pengisahan ulang sejarah leluhurnya. Dimana jelas terlihat di kedua candi itu gambaran bahwa bangsa-bangsa lain seperti Mesir, Inca, Maya, Indian, Arab, Sumeria, Eropa dan lain sebagainya merupakan bekas wilayah kekuasaaan Atlantis atau Nusantara ini.

Bahkan lebih mencengangkan, banyaknya termuan benda terbang seperti pesawat dan lainnya terdapat dalam relief candi Borobudur dan sikap menghormat dan bersimpuh bangsa-bangsa lain ke nenek moyang kita di Candi Cetho. Hal semakin memperjelas bukti bahwa Nusantara pernah menguasai hampir 2/3 belahan bumi serta kecangihan teknologi bangsa ini. Kebesaran dan kecanggihan sebelum akhirnya tenggelam oleh kesombongan serta “hadiah” mencairnya es dan meletusnya gunung-gunung yang memisahkan nusantara menjadi pulau-pulau terpisah.

Saya mengerti, semakin banyak informasi kebesaran Nusantara ini akan muncul juga informasi tandingan menutupi dan mengaburkannya. Tak perlu saya jelaskan lagi alasannya. Yang pasti, Atlantis identik dengan pusat tambang logam mulia EMAS dan ini sangat berbahaya bagi bangsa lain yang berkepentingan jika sampai muncul kesadaran bersama rakyat Indonesia.

Tambang emas yang sudah terbukti dengan adanya gunung di Papua dan kini sudah ditemukan lagi gunung dengan kandungan emas 10 kali lipat di kepulauan Sumatra.

Saya juga mendadak ingat saat Bung Karno—founding father bangsa ini pernah juga membahas Atlantis ini sekitar 48 tahun yang lalu di markas ALRI Tanjung Priok. Saat itu Bung Karno mengatakan, “ada kupasan yang mengatakan bahwa di selatan Pulau Jawa ini ada satu Pulau besar, yang seperti Nusa Tembini, kepulauan pulau Nusa ini, seperti Nusa Tembini diereh oleh seorang Raja Putri.”

Dimana Raja Putri itu, mempraktekkan hukum matriarchal. Namun, kerajaan Nusa Tembini tenggelam ke dasar laut yang dikenang dengan cerita Nyi Roro Kidul. Menurut bung Karno, kisah Nusa Tembini ini sangat identik dengan kepercayaan orang eropa mengenai kerajaan lautan Atlantis. Walau saat itu Bung Karno tidak ingin Indonesia menganggap kisah ini hanya menjadi cerita mistik belaka. Namun hal ini menjadi orientasi negara agar memperkuat sisi maritim dan kelautannya.

Bahkan sampai presiden penerusnya—Pak Harto mempunyai pandangan yang serupa tetapi beda gaya. Pak Harto memilih menyembunyikan pengetahuan beliau tentang keberadaan ibukota kerajaan Atlantis di Nusantara ini—tepatnya di pulau Jawa. Namun beliau tetap memberikan kisi-kisi berupa peta istana Atlantis yang ternyata berada tidak jauh dari lokasi acara di TMII hari itu (Minggu, 24 Maret 2013). Tempat itu bernama Museum Purna Bhakti Pertiwi.

 

Seperti yang kita ketahui, cerita kemegahan istana Atlantis ini sangat menginspirasi siapa saja. Konsep berupa menara tinggi yang menembus awan dan tangga yang melingkar yang pernah menjadi inspirasi Raja Namrud untuk membuat tiruannya bernama menara Babelonia. Konsep bentuknya pun kini juga menginspirasi gedung tertinggi di dunia—Burj Khalifa di Dubai. Namun kebesarannya masih belum bisa menyamai istana Atlantis yang asli.

Menurut kode pak Harto dalam design museum Purna Bhakti Pertiwi yang mirip dengan bentuk nasi tumpengan yang membudaya di era kepemimpinannya, jika kita lihat dengan mengungakan google maps atau wikimapia--terlihat keterkaitan yang kuat antara Gunung Penanggungan di Jawa Timur dengan peta atau kode rahasia dari pak Harto ini.

Dan hal itulah yang juga menjadi dasar ketertarikan yang besar untuk menghadiri acara kunjungan ke museum TMII yang diadakan bersama blogger-blogger lain. Disamping untuk mengikis ketidak-pede-an diri Indonesia terhadap bangsa lain dan titik balik kebangkitan Nusantara. Saya menduga masih banyak kode-kode lain tentang Atlantis yang juga disembunyikan oleh pak Harto di museum-museum TMII.

Syukur-syukur bisa terlibat dalam penemuan emas yang luar biasa banyaknya. Banyak emas yang bukan sebesar gunung lagi namun sebesar pulau. Namun jika belum terbongkar rahasianya, setidaknya saya bisa banyak mengumpulkan bahan untuk membuat novel konspirasi ala Dan Brown yang International Best Seller beneran ini. Cuman masalahnya, kode sudah terlanjur di bahas di artikel ini dan jadi semakin banyak yang tahu. Hal ini berarti mesti bersiap-siap mendapat pesaing baru dalam berburu data--baik dengan penulis atau blogger lain.

Maklum, soal data tulisan novel ini—strategy siapa cepat dapat masih berlaku.

Yak, mulai tancap gas!

.....

[Hazmi Srondol]

Penemuan "Dark Particle" dalam Setetes Kecap Bango

Posted on Minggu, 17 Maret 2013 Tidak ada komentar
“...tapi kata orang-orang, aku item...”

Hampir saja saya tertawa ngakak membaca kalimat yang tertulis dalam foto mesra salah satu sahabat kelahiran Sorong, Papua-- yang diunggahnya ke facebook. Kalimat yang muncul dari ungkapan perasaan (ehm...) sayang kekasihnya saat usai beberapa hari jadian.

Kata yang multi tafsir antara senang, bangga sekaligus keheranan tingkat tinggi pada dirinya sendiri. Keheranan kok ada yah gadis cantik dan berkulit sangat putih seperti pualam mau-maunya jadi kekasihnya sekaligus ijazah (belum ijab sah) bahwa dirinya sudah lulus dari kampus galau dalam perjalanan kejomboannya.

Jujur saja, saya juga heran—bukan heran atas keputusan penerimaan sang gadis loh ya. Saya heran atas persepsi warna ‘hitam’ yang beredar dibenak dan bawah sadar manusia jaman sekarang. Persepsi bahwa kulit hitam berarti lebih buruk, level kegantengan yang rendah atau jauh dari sebutan tampan daripada yang berkulit putih terang.

Belum lagi penggunaan kata-kata hitam ini sebagai simbol kejahatan atau sesuatu yang sangat-sangat buruk. Mari kita coba cek penggunaaan ini, dari judul buku seperti: catatan hitam tokoh..., sejarah hitam kasus... hingga penggunaan nya dalam artikel atau headline di koran-koran seperti: kambing hitam, sisi hitam..., konglomerat hitam... dan lain sebagainya.

Jepretan Layar 2015-07-25 pada 12.54.25

Kalau pun ada yang sedikit baik, paling banter soal item-item kereta api. Biar item banyak yang ngantri. Cuman pertanyaannya, mana ada kereta jaman sekarang yang warnanya item? Bahkan kereta KRL pun untuk gerbang paling ujungnya malah memakai warna pink, warna khusus gerbong wanita.

Ditambah lagi sampai ke urusan kendaraan, asap hitam dari mobil bermesin diesel dianggap buruk dan sumber utama polusi udara. Mirip senjata rahasia ikan cumi dan gurita kata sebagian kawan-kawan.

Padahal, fakta membuktikan—walau asap diesel berwarna pekat namun bahaya dan racun yang terkandung dalam asap mobil diesel jauh lebih kecil daripada asap mesin bensin. Jadi tak heran kenapa sekarang di Eropa, penggunaan mobil diesel lebih populer dibandingkan mobil bensin. Angka persentase penggunaaanya pun sangat fantastis, lebih dari 70% di Perancis dan Jerman.

Angka yang sempat membuatku tidak percaya hingga pada suatu ketika mendapatkan tugas kantor ke Jerman dan ketika dijemput oleh taxi berjenis Mercy, sang ibu pengemudi mobil yang nyaman, senyap dan lembut itu mampir ke pom bensin, eh, pom bahan bakar—kendaraan tersebut merapat disisi pompa solar, bukannya pompa bensin gazoline. Eh, serius loh pengemudinya ibu-ibu.

Sempat terfikir, asal muasal salah kaprah ini muncul (mungkin) karena salah tafsir atas simbol Tao yang berkonsepkan yin-yang dengan logo berwarna hitam dan putih. Banyak yang menganggap bahwa putih itu surga dan hitam itu neraka. Padahal setahuku, dari semua kitab suci semua agama—digambarkan bahwa neraka itu berwarna merah menyala bukannya hitam. Bahkan dalam Tao sendiri, simbol ini lebih mengacu kepada makna “ada dan tiada” dan “keseimbangan”.

Tapi, keseimbangan yang bagaimana?

Apakah keseimbangan komposisi warna? Keseimbangan berat? Keseimbangan naik sepeda? Atau malah keseimbangan keseimbangan jumlah follower dan yang difollow di twitter?

Bingung? Tenaaaaang...

Kebingungan kita sama. Hampir lebih dari tiga dekade umurku ini, aku juga dalam pencarian jawaban yang sama. Pencarian jawaban yang baru kutemukan beberapa saat yang lalu sewaktu tidak sengaja mengantar sahabat dari Semarang yang hendak menemui guru besarnya di salah satu Dojo Aikido di daerah Cipete.

Dalam dialog yang sempat aku dengar, sang guru tersebut bercerita tentang salah satu muridnya yang menanyakan perihal keberadaan Tuhan di alam semesta ini. Menurut murid tersebut, jikalau memang Tuhan itu adalah ‘cahaya’, kenapa jika malam yang gelap, cahaya bintang dan galaxy lebih sedikit daripada luas daerah hitam di langitnya? Berarti iblis dan lucifer lebih berkuasa di alam semesta ini dong?

Byuh, serasa keringat di dahi ikutan menetes mendengar pertanyaan kelas berat yang baru sekali itu aku dengar. Lalu dengan dengan hati-hati aku mencoba menunggu jawaban dari sang guru besar ini. Tampak sang Guru terlihat tersenyum dan mengatakan bahwa ‘cahaya’ Tuhan berbeda dengan cahaya ala pandangan mata manusia.

Cahaya Tuhan tidak hanya berwarna putih atau mejikuhibinui-nya pelangi. Hitam juga merupakan cahaya tersendiri dan sang guru itu menyebut istilah ‘dark particle’ untuk gambaran penemuan ilmiah di masa sekarang.

Ibarat sebuah kuis berhadiah pulsa, aku serasa mendapatkan sebuah clue dan petunjuk untuk memburu penjelasan lebih dalam tentang kata tersebut. Sungguh terkejut, ternyata memang banyak pembahasan soal dark particle atau diterjemahkan secara kasar sebagai ‘partikel gelap’ ini. Bukan gelap karena tidak bercahaya, namun lebih karena indera mata manusia yang tak mampu melihat. Dibutuhkan alat khusus untuk mendeteksi keberadaannya.

Jepretan Layar 2015-07-25 pada 12.54.10

Keterkejutan yang membuat mata ini terbelalak. Dark particle yang ternyata juga merupakan sebutan lain untuk menggambarkan dua hal yaitu dark matter (materi gelap) dan dark energy (energy gelap) yang merupakan lawan dari kata gravitasi. Dimana didalam jagad raya ini, menurut para ahli terkandung 73% dark energy, 23% dark matter dan sisanya 4% baru materi dan energi ‘biasa’ yang kita pelajari di sekolah dan kampus.

Itu pun kalau kita belajar fisika & kimia beneran, kalau belajar asal-asalan dan sering kabur buat bolos dan kongkow-kongkow, ya tentu pengetahuan kita jadi semakin miriplah dengan perumpamaan setitik tinta di lautan samudra.

Penemuan dark particle alias si hitam di angkasa itulah yang akhirnya dapat diketahui fungsi utamanya. Fungsi sebagai ‘penyangga’ planet-planet, galaksi-galaksi agar seimbang dan mulus beredar di orbitnya masing-masing. Tak terbayang jika isi alam semesta ini mesti memakai kawat gantungan, tangga atau pondasi baja agar bisa berdiri—tentu suatu hari planet-planet bakal mencelat atau ceblok kebawah pindah orbit sendiri ketika penyangganya rusak.

Kedua dark particle ini jugalah yang akhirnya memberikan jawaban soal ‘keseimbangan’ yang mungkin dimaksudkan dalam simbol tersebut sekaligus pembuktian bahwa hitam bukanlah simbol kejahatan atau keburukan.

Bukti mengejutkan lain juga kami temukan saat kami sekeluarga berkunjung ke kota Malang. Di sana, tepatnya di lapangan Stadion Rampal Malang yang sedang diadakan Festival Jajanan Bango 2013. Disana kami melihat begitu banyak dark particle berbentuk cair itu bertebaran dan berada di hampir semua gerobak jajanannya. Dark particle cair yang sering kita sebut sebagai kecap manis.

Kecap manis yang hanya ada di Indonesia. Kecap yang sempat membuat anakku bertanya-tanya, kenapa hampir semua rumah keluarga Indonesia bahkan makanan warisan kuliner nusantara ini semua memakai kecap?

[embed]https://www.youtube.com/watch?v=6WPVzxlTCV4[/embed]

Dengan senyum yang tersungging dan mencoba merubah gestur tubuh ala professor dari CERN, NASA atau LAPAN aku menjelaskan, memang bakso tetaplah bakso, nasi goreng tetaplah nasi goreng, gado-gado tetap gado-gado atau tempe tetaplah tempe walau tanpa kecap.

Namun, hadirnya setetes atau sesendok kecap dalam olahan ataupun cocolan makanannya membuat semua menjadi berubah. Bukan sekedar berubah menjadi lebih gelap. Namun lebih dari itu, kecap mampu membuat masakan menjadi lebih lezat dan menyelaraskan dengan lidah kita yang sangat Indonesia ini.

Jikalau tidak percaya, saat kita neg saat makan pizza, spagetti atau masakan asing lainnya—cobalah tuangkan sedikit kecap diatasnya. Dijamin mendadak kita akan doyan memakannya. Jadi, bolehlah saya menyebut bahwa kecap manis yang berwarna hitam ini mempunyai fungsi yang sama dengan dark particle di angkasa. Yaitu berfungsi sebagai alat penjaga keseimbangan.

Keseimbangan rasa.

Cleguk!

......

Twitter: @hazmiSRONDOL

[Malang,17 maret 2013]

Indomie Meminta Maaf, "Kompensasi" Lebih dari 200 Milyar

Posted on Kamis, 28 Februari 2013 Tidak ada komentar
“…akhirnya aku malah jadi sadar, tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Semua sudah dalam skenario-Nya…”

Begitulah kurang lebih cuplikan bait yang tertulis dalam salah satu bab di novel komedi “Srondol Gayus ke Italy” perdanaku. Bait yang kini mendadak muncul kembali setelah kejadian antara saya dengan LOWE dan INDOMIE.

Jepretan Layar 2015-08-07 pada 11.49.58

Ya, setelah kemunculan artikel curhatku sebelumnya yang di sertai respon dan dukungan para sahabat baik penulis, jurnalis, blogger hingga netizen pengguna social media—akhirnya muncul telefon dari mbak Joyang mewakili CEO LOWE dari Singapore untuk meminta maaf atas kejadian yang sudah terjadi.  Permintaan maaf yang di sertai tindak lanjut untuk bertemu secara langsung—pertemuan yang akan menyertakan pihak INDOFOOD sesuai permintaanku.

Sungguh, aku tidak menyangka ketika di depan mata dan kepalaku sendiri—Mbak Jo, pak Stefanus Indrayana (GM Corporate Communication – Indofood) dan pak Mustofa dari segment produk Indomie mengaturkan permohonan maaf baik secara pribadi ataupun corporate kepada saya. Saya yang hanya seorang penulis dan blogger ini.

Sungguh saya tak mampu menahan haru, antara terbayang tiga dus Indomie yang nonggol di depan pintu laundry kiloan istriku hingga rasa plong dan bahagia campur menjadi satu.

Sudah kucoba membendung air mata ini, tapi sungguh—ini bukan sandiwara film India. Jebol bendungan kecil di pelupuk mataku, aku menangis. Menangis yang kata almarhumah Ibuku dulu—pantang untuk lelaki kecuali pada dua hal yaitu ketika di hadapkan pada sesuatu yang sangat duka atau sebaliknya, yaitu pada saat-saat paling membahagiakan.

Ya, aku memaafkan Indomie dan Lowe, walau tetap saja kejadian ini tidak bisa aku lupakan karena merupakan bagian dari perjalanan hidupku sendiri.

Aku tahu, beberapa sahabat mempertanyaakan begitu mudahnya aku memberi maaf kepada mereka setelah penghinaan dan penistaan kepada penulis yang dilakukannya. Kok nggak sampai gebrak meja atau cegat di pojokan gang sambil bawa golok ngumpet di gapura. Bahkan beberapa sahabat yang menguasai masalah hukum banyak memberi masukan soal denda dan hukuman pidana serta perdata perihal pemotongan esensi cerita yang bisa mencapai milyaran jumlahnya.

13620522081594382937



Ya ya ya, memang itu sangat menggiurkan. Pasti bisalah untuk membeli ‘ferarri’ berwarna merah testarossa. Namun, ada hal lain yang menjadi pertimbangan. Selain hasil diskusi dengan istri dan anak-anak di rumah—tentu kita ingat sebuah film yang membahas soal pencurian karya cipta yang berjudul “Flash of Genius”.

Film yang berdasarkan kisah nyata ketika seorang professor teknik bernama Robert Kearns yang menemukan system pengaturan waktu sapuan wiper kaca mobil pada tahun 1950-an, temuan yang disabot oleh pihak corporate Ford dan dicaplok kepemilikan hak ciptanya secara semena-mena. Singkat cerita, pak Robert ini hanya meminta permintaan maaf dari pihak Ford namun hasil nya sidangnya--pihak Ford lebih memilih membayar denda 18,7 juta USD atau sekitar 180 milyar rupiah dan dinyatakan ‘sekedar’ pelanggaran yang dilakukan tanpa sengaja daripada harus meminta maaf kepada penemu aslinya.

Dan hari itu (27/2/2013), Indomie dan Lowe melakukan hal yang terbalik. Tak perlulah saya mesti menunggu persidangan hingga belasan tahun, tak perlu sampai ditinggalkan istri dan anak-anaknya dan tak perlu sampai masuk ke rumah sakit jiwa karena dianggap depresi karena obsesi seperti kisah film diatas. Saya cukup menuliskan curhat dan permintaan maaf pun datang tanpa kerumitan. Jikalau dibandingkan masalah pak Robert, bolehlah apa yang saya dapatkan ‘bernilai’ lebih dari 200 milyar rupiah. Dan bagi kami sekeluarga, sudah sangat cukup dan kami anggap masalah sudah selesai.

Perilhal jika nanti pihak Lowe atau Indomie akan memberikan kompensasi atas tulisanku yang dipakai untuk kampanye terdahulu. Kami tidak berharap banyak. Apapun yang diberikan, kami terima. Termasuk jika memang semangkuk Indomie rebus pakai telur adalah nilai yang sepantasnya. Kami tidak berani meminta terlalu berlebih. Saya menurut apa yang dikatakan pak Stefanus Indrayana—biarlah ‘hati nurani’ yang bicara soal angkanya.

1362068569341889506

tweet dr LOWE


 

Kami takut, jika menuntut berlebihan di luar kewajaran--ini malah menjadi bagian dari pemerasan. Sedangkan apalah jadinya anak-anak kami kelak jika apa yang kami dapatkan dari hasil pemberian yang tidak iklas dan terpaksa. Percuma banyak duit, tapi anak-anak menjadi sosok bandel, susah diatur atau bahkan menjadi pemakai narkoba… kayak artis siapa tuh? Saya kok mendadak lupa…

Dan sekarang, dengan hati yang sudah lega dan plong ini. Semangat menulis yang sempat pudar seakan bangkit kembali. Banyak hutang pribadi yang harus segera di selesaikan. Dari memasarkan ulang novel pertama, menerbitkan buku lanjutan, membesarkan media humor Srondolnews.com, membuat shortmovie, mewujudkan Assosiasi Blogger Reporter Indonesia serta berbagai macam kegiatan di digital media sudah menunggu.

Semoga dengan hilangnya beban perasaan ini, semua langkah menjadi ringan dan Tuhan membuka pintu dan jalan-Nya untuk mempermudah langkah ini kedepan. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan. Dari tetap berusaha setulus merpati namun mesti belajar cerdik seperti ular. Jangan sanpai kebaikan tanpa kepintaran malah membuat kita jadi sosok yang salah dimanfaatkan.

Benar kata pak Indra saat usai bermaafan dan berpelukan, “Tak ada yang yang kebetulan dalam kejadian ini. Semua sudah dalam skenarioNya”. Statement yang mendadak menjadi sindiran ke diri sendiri untuk tetap konsisten dan bertanggung jawab atas apa yang yang sudah kutuliskan, baik di buku maupun lainnya.

Ya, aku merasa sangat beruntung, dibanding kawan-kawan penulis yang lain—saya bisa bertemu langsung dengan sosok-sosok hebat dibelakang produk yang sudah mewarnai kehidupan kita sehari hari. Dari hiburan iklan hingga makanan yang sudah menjadi sahabat kita sehari-hari—Indomie.

Tak lupa di penutup artikel ini, buat nama-nama yang tersebutkan dalam tulisan terdahulu, baik terlibat langsung maupun sekedar terkna loop email seperti mbak Hanna Wihodo, mbak Henny Sihombing, mbak Fiki Karina, mbak Wina Andriana dan mas Wawa Suwanto saya haturkan permohonan maaf dan terima kasih. Karena tanpa mbak dan mas semua, tentu saya akan lama diam dan mangkrak di satu kelas...

Dan semua yang terjadi sekarang menjadi tambahan pelajaran buat kita semua bahwa korporat, agency, penulis, blogger dan jurnalis,  bukan musuh yang saling berhadapan, namun adalah mitra untuk kesuksesan bersama.

Jikalau ada waktu, sudilah kita ketemu dan ngobrol-ngobrol. Insya Alloh saya yang traktir, walau traktirnya cuman semangkuk Indomie rebus yang lezat lo yaaa… hehehe.

Salam hangat dan jabat erat,

HAZMI SRONDOL

Penulis – Blogger

…………….

Artikel terkait:

1. "Sesuatu" yang Haram dari Indomie:

http://www.hazmisrondol.com/sesuatu-yang-haram-dari-indomie/

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/02/20/sesuatu-yang-haram-dari-indomie-530412.html

2. Part 9 Novel Srondol Gayus ke Italy : http://hiburan.kompasiana.com/humor/2010/03/30/srondol-ke-italy-9-tragedi-toilet-umum-106614.html

Andrea Hirata dan Saatnya Balas Tulisan Dengan Tulisan

Posted on Sabtu, 23 Februari 2013 Tidak ada komentar
Entah kenapa, simpati saya atas ANDREA HIRATA--seorang penulis buku yang sama-sama pernah bekerja di perusahaan telekomunikasi, berada pada titik nadir.

Berbagai macam alasan muncul, salah satu alasannya adalah bagaimana dia membuat dikotomi antara ‘penulis’ dan ‘blogger’. Padahal dalam dunia blogging itu sendiri—selain para jurnalis, blogger sendiri juga banyak yang berbasis penulis buku atau calon penulis buku. Lebih anehnya lagi, dengan latar belakang pekerjaan lama di dunia telekomunikasi, masa sih tidak tahu jika weblog adalah sebuah tempat atau wadah baru 'menitipkan' tulisan di dunia internet yang kian maju?

Bahkan wartawan jaman sekarang, banyak yang ‘menolak’ disebut kuli tinta dan lebih suka disebut kuli BB (blackberry) karena faktanya memang benda dari Canada ini yang lebih banyak dipakai untuk mencatatkan bahan reportasenya di bandingkan pena atau pulpen seperti zaman terdahulu.

Sedangkan alasan kedua, prinsip standar tulisan di balas tulisan yang lazim di lakukan oleh mereka yang mengaku ‘penulis’ tidak dilakukannya. Padahal jika memang ia penulis novel yang (konon) laris manis tanjung kimpul—rasanya mudah sekali membuat tulisan balasan. Apalagi (konon lagi) ia mempunyai banyak data yang bisa mematahkan tulisan sang ‘blogger’ tersebut.

Byuh, sudah—capek juga menulis dengan banyak sekali tanda kutip seperti diatas.

Sekarang mendingan saya sedikit berbagi kisah tentang kejadian tulisan yang di balas dengan tulisan. Kisah yang terjadi sekitar bulan Desember tahun 2011 di Kompasiana ini. Saat itu, saya terkaget dengan naiknya Headline di Kompasiana dengan judul Laundry, Ancaman Pencemaran yang Dininabobokan oleh Kebersihan, Kelembutan dan Wewangian tulisan mas Dhanang Dhave.

Sontak saya terperangah dan sedikit panik. Maklum, di kawasan Bekasi—mungkin laundry kiloan yang dibuat istriku termasuk angkatan pertama yang memulainya. Muncul kekhawatiran besar, tulisan headlines ini akan merusak citra usaha yang dirintis istriku. Sempat membalas komen, tapi mengingat gawatnya nama besar dan Kompasiana dalam mesin penjelajah Google mau tidak mau sebagai suami yang (pengen) di cap baik oleh istrinya maka aku segera angat senjata... eh keyboard ding.

Lalu meluncurlah tulisan balasan Jawaban: Ancaman Bisnis Laundry Kiloan di hari dan tanggal yang sama.Hasilnya, bukan hanya tulisan dibalas tulisan namun HL dibalas HL. Kekhawatiranku berkurang, keseimbangan opini mulai terbentuk. Nafas pun menjadi melega.

1361603311389690581

HL dibalas HL


Setelah tulisan ini berbalas, tentu muncul pertanyaan: “bagaiamana hubungan kami (saya dan mas Dhanang) setelah berbalas tulisan?”

Memang, pastinya setelah kemunculan tulisan berbalas ini, sempat muncul perasaan yang tidak nyaman. Namun, nyatanya setelah kejadian itu—kami malah saling add pertemanan baik di Kompasiana, Facebook, twitter mau pun Istagram. Bahkan setelah itu, tak jarang kami saling jempol komen, foto bahkan saling jitak di socmed.

Kami sama-sama sadar dan mengerti. Yang kami lakukan hanyalah sekedar berbagi sudut pandang. Sudut pandang yang pastinya berbeda. Agak terasa menyerang jika malah tidak ada tulisan berbalas. Aku pun  juga makin tahu latar belakang tulisan mas Dhanang yang memang expertasinya di bidang Biologi—tak jauh dari kesehariannya mengajar kelas pascasarjana di sebuah kampus swasta di Salatiga. Dan aku yakin mas Dhanang juga mengerti latar belakang tulisanku yang ingin menyelamatkan salah satu pilar ekonomi keluarga rintisan istriku dengan sodoran data-data berbasis ilmu kimia dan entrepreneurship.

Sedangkan pertanyaan kedua soal siapa yang kalah dalam masalah ini, maka jawabannya adalah tidak ada yang kalah tapi yang pasti kami sama-sama menang! Saya merasa bertambah ilmu dan tahu wawasan temen-temen berlatar belakang Biologi. Belum lagi keuntungan tambahan saudara dan hiburan foto-foto cantik mas Dhanang di komunitas Kampretos dimana ternyata kemampuan dan karya mas Dhanang di dunia fotografi sungguh memikat.

Nah, kembali ke masalah Andrea Hirata. Rasanya sangat naif jika ‘sekedar’ tulisan yang sama-sama dari seorang penulis kok sampai di bawa ke meja hijau. Apa tidak lebih baik meniru langkah saya yang pernah mencoba membawa mas Dhanang ke meja makan. Meja makan Nasgorkam Kebon Sirih yang sangat terkenal itu. Ajakan yang belum terjawab karena mungkin ada alasan sederhana yaitu soal ongkos transport ke Jakarta dari Salatiga tidak sebanding dengan harga Nasgorkam campur Sate Kambingnya.

Ah…. Sudahlah, siapalah saya kok menyuruh-nyuruh orang sekaliber penulis 'best seller internasional' ini. Saya cuman mendadak ingat tagline iklan rokok mild jaman dulu.

Tua itu pasti jadi Dewasa itu pilihan.

[Hazmi Srondol]

"Sesuatu" yang Haram dari Indomie

Posted on Rabu, 20 Februari 2013 Tidak ada komentar
Suatu malam, beberapa bulan setelah launching dan publikasi besar-besaran novel pertamaku berjudul "Srondol Gayus Ke Italy" ke berbagai media serta berselang beberapa bulan juga dari menjadi salah satu brand ambasador produk telekomunikasi bersama beberapa penulis lainnya masuk notifikasi email mengejutkan dari sebuah agency, bukan agency sembarangan tapi agency bertaraf internasional bernama LOWE & Partner.

Dengan mata yang sangat mengantuk sekali, dari layar blackberry yang mungil, kubaca isinya yang sepert ini:

................................................

From: "Wihodo, Hanna (JKT-LWW)" [Hanna.Wihodo@loweandpartners.com]

Date: Tue, 14 Jun 2011 22:49:13 -0500

To: hazmi.srondol@yahoo.com [hazmi.srondol@yahoo.com]

Cc: Sihombing, Henny (JKT-LWW) [Henny.Sihombing@loweandpartners.com]

Subject: Konfirmasi Persetujuan Penggunaan Cerita Indomie untuk Majalah Tempo (Sdr Hazmi)

Dear Sdr. Hazmi Srondol, Sebelumnya saya perkenalkan terlebih dahulu saya Hanna dari Lowe, sebagai agency dari Indomie, dimana Sdr. Hazmi telah berpartisipasi mengirimkan cerita pengalaman dengan Indomie. Karena cerita sdr menarik, maka kami berniat untuk mempublikasi cerita sdr di majalah Tempo. Dengan email ini kami meminta ijin kepada sdr selaku pemilik cerita apabila setuju untuk mempublikasikannya.

Apabila sdr setuju, kami mewakili Indomie mengucapkan terima kasih banyak dan sebagai tanda, kami telah menyiapkan sesuatu untuk sdr.  Untuk itu kami meminta data alamat lengkap (untuk keperluan pengiriman), beserta foto ukuran postcard. Sekian dan kami tunggu konfirmasinya dengan me-reply email ini.

Terima Kasih,

Hanna Wihodo Account Management 1st Fl, Victoria Bldg.

Jl. Sultan Hasanuddin Kav. 47-51 Jakarta 12160 INDONESIA Telp. +62 21 7254849 Ext. 9110

..................

Waaah, jujur saja walau selintas membacanya-terbersit rasa senang. Walau sebenarnya aku binggung, tulisan mana yang di maksud? Setahu aku aku TIDAK PERNAH  mengirimkan tulisan untuk lomba "CERITA INDOMIE" yang besar-besaran kampanyenya di bulan itu.

Apalagi Indomie menyebut akan memberikan 'sesuatu' yang dikirim kerumahku untuk tulisan yang akan di muat di majalah TEMPO. Aku berifikir, cuman disuruh nge-tweet oleh perusahaan telko saja 'sesuatu' nya sangat lumayan, bagaimana kalau tulisan di jadikann kampanye iklan?

Wah pasti jauuuuh lebih gede. Indomie gitu looh, perusahaan yang produknya sudah mendunia. Apalagi ingat Sahrini-artis yang memberikan tolak ukur soal hal atau benda yang bernilai besar atau tak terhingga adalah "sesuatu bangeeet!"...

Waaah, cleguk! Melintas di otakku sebuah mobil Ferarri berwarna merah testarosa parkir di depan garasi yang di hiasi pita-pita.

Hmmm... pasti anak, istri, tetangga, temen akan ikutan senang apalagi satu-satu boleh foto narsis dan diupload di akun facebook dan twitternya masing-masing.

Hiihihihi... Lalu dalam keadaan binggung bercampur aduk dengan rasa senang dan penasaran, ke esokan harinya  aku pun menanyakan soal tulisanku yang mana yang dianggap menarik oleh pihak LOWE dan INDOMIE itu.

..................

From: hazmi.srondol@yahoo.com [mailto:hazmi.srondol@yahoo.com]

Sent: Wednesday, June 15, 2011 10:53 AM

To: Wihodo, Hanna (JKT-LWW)

Subject: Re: Konfirmasi Persetujuan Penggunaan Cerita Indomie untuk MajalahTempo (Sdr Hazmi)

Ini cerita yg mana ya mas/mbak?

......................

Kembali malam harinya, pihak LOWE menjawab lagi.

.........................

From: "Wihodo, Hanna (JKT-LWW)" [Hanna.Wihodo@loweandpartners.com]

Date: Tue, 14 Jun 2011 23:02:18 -0500

To: hazmi.srondol@yahoo.com [hazmi.srondol@yahoo.com]

Subject: RE: Konfirmasi Persetujuan Penggunaan Cerita Indomie untuk MajalahTempo (Sdr Hazmi)

Pak Hazmi, Yang kami maksud adalah cerita dengan judul "Indomie Rebus Mas Kun".

Terima kasih, Hanna

........

Oalaaah, aku baru ingat. Tulisan yang maksud itu adalah tulisan lama yang kutulis tanggal 19 Februari 2010 di blog Kompasiana dengan judul "Indomie Rebus Mas Kun" (http://hiburan.kompasiana.com/humor/2010/02/19/indomie-rebus-mas-kun-77261.html) .

Tulisan yang merupakan jawaban sekaligus sambungan dari tulisan lama di blog Multiply sebelumnya yang berjudul serupa namun masih sangat kasar dan berupa bahan saja. Jika dalam blog di Multiply (http://h42mi.multiply.com/journal/item/2/Indomie-rebus-mas-Kun...) , aku mencatatkan rasa penasaran oleh olahan Indomie rebus mas Kun yang sangat luar biasa rasanya. Mas Kun yang kini sudah menjadi juragan kos-kosan. Hebat yah? Hehehe..

Padahal aku juga sering memakan Indomie rebus dari penjual atau pedagang lain-tapi rasanya biasa-biasa saja. Bahkan ada beberapa yang malah neg dimakan karena merebusnya terlalu 'medoq' atau 'mbededek' seperti karet gelang yang direndam minyak tanah.

Dan di Kompasiana, aku mencatatkan rahasia kelezatan makanan-yang kudapat dari ocehan istriku menasehati pembantunya soal cara memasak. Dimana saat memasak, bumbu dan bahan adalah nomer dua. Nomer satunya adalah 'berdoa' atau membaca bacaan Basmallah..

Dan sekali lagi, kata "sesuatu" yang akan dikirimkan ke rumah oleh perusahaan sebesar Indomie dan LOWE  seperti membiusku untuk mengaminkan kemauan mereka. Bius yang kemudian  lebih mengerikan dari Hipnotis yang sering di beritakan di berbagai media. Hipnotis yang akhirnya bukan hanya membuatku menyetujui, tetapi malah membuat ku mendadak menjadi 'aktif' membantunya kampanye mereka.

..............................

From: hazmi.srondol@yahoo.com [mailto:hazmi.srondol@yahoo.com]

Sent: Wednesday, June 15, 2011 11:47 AM

To: Wihodo, Hanna (JKT-LWW)

Subject: Re: Konfirmasi Persetujuan Penggunaan Cerita Indomie untukMajalahTempo (Sdr Hazmi)

Saya bersedia dan setuju dgn perminttan mbak. Cuman mohon dirapikan editorial nya ya mbak, trus jangan lupa di tulis nama saya :

Hazmi Srondol, Penulis Novel Komedi - Humor Cerdas Ala Kantor "SRONDOL GAYUS KE ITALY"

Alamat saya: Hazmi SRONDOL d/a Vila Mutiara ------blok X-/-- Rt/Rw: ---/--- ds.Karang Satria kec. Tambun Utara Kab. Bekasi 17510 Telp: 0816------ 021-3008----

..........................

Hehehhe, jangan marah ya. Untuk alamat dan nomer telpon ku aku edit. Khawatir nomerku di serbu SMS tawaran KTA dan kartu kredit. Tapi bagi yang berminat bersilaturahim ke rumah, monggo dengan tangan terbuka saya akan memberikan alamat dan nomer HP, kirim pesan saja lewat inbox email yaa...

Eh, jadi ngelantur. Kembali ke masalah. Setelah mengirimkan persetujuan, aku berharap akan ada email susulan yang mengajakku bertemu di kantor Indomie atau klien nya untuk menandatangani sejenis kontrak bermaterai yang lazim dilakukan oleh agency yang berhubungan denganku baik sebagai brand ambasador mau pun ghost writer.

Tapi, email yang lanjutan yang aku terima-berbeda. Malah email yang kuterima permintaan untuk mengirimkan foto. Ya repot banget, aku kan sedang meeting di kantor. Dan tanggung jawabku ke perusahaan tempatku mengabdi sehari-hari harus lebih besar konsentrasinya. Dan mulailah aku sedikit kesal dan aku minta mereka mencari sendiri foto di Facebook ku saja. Tapi, kembali kata 'sesuatu' membuatku turun tensinya.

Ingat kata Sahrini dan ingat Ferarri... sesuatu bangeeet!

...........................

From: "Wihodo, Hanna (JKT-LWW)" [Hanna.Wihodo@loweandpartners.com]

Date: Wed, 15 Jun 2011 02:46:05 -0500 To: hazmi.srondol@yahoo.com [hazmi.srondol@yahoo.com]

Cc: Sihombing, Henny (JKT-LWW) [Henny.Sihombing@loweandpartners.com]

Subject: RE: Konfirmasi Persetujuan Penggunaan Cerita Indomie untukMajalahTempo (Sdr Hazmi)

Pak Hazmi, Terima kasih atas persetujuan dan partisipasinya, Pak. Apabila Bapak tidak keberatan juga untuk mengirimkan photo bapak ukuran post card sebagai reference bagi kami untuk dijadikan ilustrasi di majalah tersebut. Kami tunggu kiriman photo Bapak. Terima Kasih. Regards, Hanna

..........................

From: hazmi.srondol@yahoo.com [mailto:hazmi.srondol@yahoo.com]

Sent: Wednesday, June 15, 2011 2:48 PM

To: Wihodo, Hanna (JKT-LWW) Subject:

Re: Konfirmasi Persetujuan Penggunaan Cerita IndomieuntukMajalahTempo (Sdr Hazmi)

Mbak, untuk foto tunggu sebentar yah. Soalnya saya lagi meeting. Kalau mau cepat, silahkan ambil di Facebook saya. Nanti di konfirmasikan ke saya foto saya yg mana yg mbak rasa cocok.

FB: www.facebook.com/hazmi.srondol

________________________________

From: "Wihodo, Hanna (JKT-LWW)" [Hanna.Wihodo@loweandpartners.com]

Date: Wed, 15 Jun 2011 06:43:59 -0500

To: hazmi.srondol@yahoo.com [hazmi.srondol@yahoo.com]

Subject: RE: Konfirmasi Persetujuan Penggunaan Cerita IndomieuntukMajalahTempo (Sdr Hazmi) Pak Hazmi, Saya coba untuk ambil photo dari Facebook bapak, namun saya tidak bisa akses halaman Photos-nya, hanya bisa lihat halaman Info saja. Kalau bisa bapak kirimkan saja photo yang bapak kehendaki, saya tunggu. Terima Kasih. Regards, Hanna

.................

From: hazmi.srondol@yahoo.com [mailto:hazmi.srondol@yahoo.com]

Sent: Wednesday, June 15, 2011 6:52 PM

To: Wihodo, Hanna (JKT-LWW) Subject:

Re: Konfirmasi Persetujuan Penggunaan CeritaIndomieuntuk Majalah Tempo (Sdr Hazmi)

Coba add saya mbak, soalnya saya masih dijalan. Atau mau nunggu nanti malam dikit?

........................

--- Pada Rab, 15/6/11, Wihodo, Hanna (JKT-LWW)  [Hanna.Wihodo@loweandpartners.com] menulis: Dari: Wihodo, Hanna (JKT-LWW) [Hanna.Wihodo@loweandpartners.com]

Judul: RE: Konfirmasi Persetujuan Penggunaan CeritaIndomieuntukMajalahTempo (Sdr Hazmi)

Kepada: "hazmi.srondol@yahoo.com"  [hazmi.srondol@yahoo.com]

Tanggal: Rabu, 15 Juni, 2011, 11:57 AM

Pak Hazmi, Saya tunggu malaman tidak apa Pak. Terima kasih atas perhatiannya. Regards, Hanna

.......................

Naaah, demi 'sesuatu' eh... demi keterlanjutan acara-akhirnya aku mengirimkan foto yang paling aku anggap keren. Fotoku dengan kaos hitam dengan gambar novel ku dengan latar belakang foto kata mutiara dari guru besar Aikido - Morihei Ushiba, salah satu seni beladiri yang aku pelajari selain pencak silat. Harapanku sih, foto ini bisa sekaligus promosi novel dan sharing filosofi Aikido.

Namun sayang, kekecewaan kembali hadir. Dalam email balasan selanjutnya, pihak INDOMIE dan LOWE tidak bersedia memuat nama pena ku serta judul novel ku. Bahkan nama ku ingin disingkatnya menjadi Hazmi S - Karyawan saja.

Namun, kembali kata 'sesuatu' yang akan hadir di rumah. Sesuatu yang dalam bayangku akan seharga Ferarri merah testarosa menjadi hipnotis rem untuk meredam kecurigaan dan kekesalanku.

.................

Novel Komedi - Humor Cerdas Ala Kantor "SRONDOL GAYUS KE ITALY" untuk yang dicetak di Majalah Tempo. Namun, kami juga akan mencetak cerita Bapak di website Indomie, dan kemungkinan besar kita bisa melampirkan nama Pak Hazmi seperti yang bapak kehendaki di website. Terima Kasih, Hanna

.........

From: "Wihodo, Hanna (JKT-LWW)" [Hanna.Wihodo@loweandpartners.com]

Date: Thu, 16 Jun 2011 01:24:41 -0500 To: Hazmi Srondol [hazmi.srondol@yahoo.com]

Cc: Sihombing, Henny (JKT-LWW) [Henny.Sihombing@loweandpartners.com]

Subject: RE: Konfirmasi Persetujuan Penggunaan CeritaIndomieuntukMajalahTempo (Sdr Hazmi)

Pak Hazmi, Setelah didiskusikan dengan Team kami, supaya tampilan Cerita Indomie seragam antara cerita satu dengan cerita lainnya, kami tidak bisa melampirkan nama bapak seperti yang bapak kehendaki: "Hazmi Srondol, Penulis

.........

From: hazmi.srondol@yahoo.com [mailto:hazmi.srondol@yahoo.com]

Sent: Thursday, June 16, 2011 1:34 PM To: Wihodo, Hanna (JKT-LWW)

Subject: Re: Konfirmasi Persetujuan PenggunaanCeritaIndomieuntukMajalahTempo (Sdr Hazmi)

Jadi apa yg ditampilkan disana?

Powered by Srondol BlackBerry®

..........

From: "Wihodo, Hanna (JKT-LWW)" (Hanna.Wihodo@loweandpartners.com)

Date: Thu, 16 Jun 2011 02:13:21 -0500

To: hazmi.srondol@yahoo.com (hazmi.srondol@yahoo.com)

Subject: RE: Konfirmasi Persetujuan PenggunaanCeritaIndomieuntukMajalahTempo (Sdr Hazmi)

Pak Hazmi, Akan ada tulisan: Cerita Indomie Punya Hazmi S. Karyawan Terima Kasih, Hanna

....................

From: hazmi.srondol@yahoo.com [mailto:hazmi.srondol@yahoo.com]

Sent: Thursday, June 16, 2011 2:36 PM

To: Wihodo, Hanna (JKT-LWW) Subject:

Re: Konfirmasi Persetujuan PenggunaanCeritaIndomieuntukMajalahTempo(Sdr Hazmi)

Maksud saya, Nama 'SRONDOL' nya di tulis. Hazmi Srondol, jangan di singkat Hazmi S. Terima kasih

Powered by Srondol BlackBerry®

...............

Sungguh, firasat saya semakin memburuk. Dari nama pena yang hendak disingkatnya, brand penulis novel di hapus dan di ganti dengan kata 'karyawan' serta posisi mereka yang semakin menjadi-jadi diatas angin karena ijin yang sudah terlanjur aku berikan via email koordinasi. Ijin yang belum ada kontrak hitam diatas putih yang disertai materai Rp.6000,00 an yang biasa dilakukan agency lokal lainnya.

Tapi bagaimana lagi, "sesuatu" dari INDOMIE ini sungguh mengunci logika dan perasaan. Apalagi catatan annual report yang mengagumkan dari perusahaan pemilik brand INDOMIE ini yang keuntungan di tahun 2012 saja lebih dari 2,5 Trilyun rupiah.

Keuntungan yang jelas akan membuat bayangan 'sesuatu' yang besar dan bangeeet ala Sahrini. Dan pemiliknya pun kini termasuk orang terkaya no 5 di Indonesia. Luar biasaa...

Dan kembali terbayang 'kompensasi' besar setara kelas perusahaan tersebut dan agency nya yang bertaraf Internasional. Dan apa yang yang aku khawatirkan terjadi, dengan modal email koordinasi tanpa kontrak hitam diatas putih bermaterai ini, LOWE dan INDOMIE menyebarkan tulisanku untuk media selain TEMPO yaitu majalah KARTINI dan BOLA.

......................

From: "Karina, Fiki (JKT-LWW)" [Fiki.Karina@loweandpartners.com]

Date: Fri, 24 Jun 2011 10:30:42 -0500

To: hazmi.srondol@yahoo.com [hazmi.srondol@yahoo.com]

Cc: Wihodo, Hanna (JKT-LWW) [Hanna.Wihodo@loweandpartners.com];

Sihombing,Henny (JKT-LWW)[Henny.Sihombing@loweandpartners.com]

Subject: RE: Konfirmasi Persetujuan PenggunaanCeritaIndomieuntukMajalahTempo(Sdr Hazmi)

Dear Bpk. Hazmi, Cerita Indomie Bapak bisa di baca di media :

1.    Tempo (Edisi 4 Juli)

2.    Kartini (Edisi 28 Juli)

3.    Bola (Edisi 4 Juli)

Terima kasih dan semoga senang dengan hasilnya ☺

..............

264549_2080759575228_754186_n

Aku terdiam membisu. Aku akhirnya sadar bahwa aku dipedaya dan di jebak dengan  hipnotis kata "sesuatu" yang dipakai oleh agency nya. Entah keinginan sendiri atau memang bagian dari konsep komunikasi standar perusahaan Indomie. Aku semakin terluka membaca bait kata penutup emailnya yang dituliskannya "Terima kasih dan semoga senang dengan hasilnya ☺", lengkap dengan kode emotikon tersenyum yang lebih terasa sedang mengejekku karena katanya penulis novel-- katanya blogger, tapi kok gampang dijebak plotting dan keyword 'sesuatu' begitu.

Bayangkan saja, Indomie dan agencynya memotong esensi cerita tentang kekuatan 'doa' sebelum memasak ala rahasia istriku. Entah itu mie instan atau tempe goreng dan telur ceplok, tetapi foto ku pun di crop hanya bagian muka saja yang kelihatan. Buram lagi.

Hilang lah aura ganteng (kata istriku) dan kaos promo bertuliskan judul novelku "Srondol Gayus Ke Italy". Belum lagi, nama Hazmi Srondol kok di tulis Karyawan. Mana ada karyawan perusahaan di seluruh dunia yang terdaftar dengan nama Hazmi Srondol. Hazmi Srondol adalah nama pena, nama penulis buku, nama personal branding blogger yang karyanya mudah di cari dari google atau di perpustakaan terbesar di dunia - Library of Congress, Amerika.

Kalau yang karyawan itu namanya Hazmi Fitriyasa-nama pemberian orang tuaku. Sakit hati dan nelangsa semakin terasa, setelah banyak kawan melaporkan bahwa di luar tiga majalah tersebut, iklan Indomie dengan basis cerita ku muncul di majalah lain seperti majalah di pesawat Garuda, di amjalah Marketing dan lain sebaginya. Aku merasa tercuri, terpedaya sekaligus...

Aku merasa menjadi manusia terbodoh dan tertolol sedunia. Kemarahan pun terlambat. Rem 'sesuatu' sudah blog. Aku pun segera mengejar mereka tentang "sesuatu" ini lewat email lagi...

------------

Dari: "hazmi.srondol@yahoo.com" [hazmi.srondol@yahoo.com]

Kepada: "Karina, Fiki (JKT-LWW)" [Fiki.Karina@loweandpartners.com]

Cc: "Wihodo, Hanna (JKT-LWW)" [Hanna.Wihodo@loweandpartners.com]; "Sihombing,Henny (JKT-LWW)" [Henny.Sihombing@loweandpartners.com]

Dikirim: Minggu, 26 Juni 2011 12:11

Judul: Re: Konfirmasi PersetujuanPenggunaanCeritaIndomieuntukMajalahTempo(Sdr Hazmi)

Wah, ke Bola dan Kartini juga yah? Trus apa neh kiriman 'sesuatu' nya ke rumah. Jangan jangan cuman Indomie se dus seperti perkiraan istriku.

-----------

From: Hazmi Srondol [mailto:hazmi.srondol@yahoo.com]

Sent: Friday, December 02, 2011 1:34 PM To: Sihombing, Henny (JKT-LWW); Karina, Fiki (JKT-LWW)

Cc: trie.hazmi@yahoo.com

Subject: "Sesuatu" banget dari Indomie?

Mbak Henny dan mbak Fiki, Saya mau menanyakan tentang pembayaran hak cipta penulis (saya) atas cerita "Indomie Rebus Mas Kun" yang dipakai untuk kampanye Cerita Indomie ke banyak majalah dan media.

Sampai saat ini saya belum dihubungi pihak Lowe sebagai agency dan kejelasan atas biayanya, padahal tulisan ini sudah lama di sebar dan sebarannya  lebih banyak ke media daripada yang disampaikan kepada saya.

Mohon informasi dan kejelasannya mbak, karena 'sesuatu' dari Indomie ini juga merupakan bahan saya untuk tulisan berikutnya. terimakasih ya mbak atas informasinya, hazmi SONDOL

---------

Dan serasa di sambar petir, serasa di serempet bajaj dan omprengan.

Email jawaban mereka sunggguh menyesakkan dada.

________________________________

Dari: "Sihombing, Henny (JKT-LWW)" [Henny.Sihombing@loweandpartners.com]

Kepada: Hazmi Srondol [hazmi.srondol@yahoo.com] ; "Karina, Fiki (JKT-LWW)" [Fiki.Karina@loweandpartners.com]

Cc: "trie.hazmi@yahoo.com" ; "Andriana, Wina (JKT-LWW)" [Wina.Andriana@loweandpartners.com]; "Wihodo, Hanna (JKT-LWW)" [Hanna.Wihodo@loweandpartners.com]

Dikirim: Jumat, 2 Desember 2011 20:44 Judul:

RE: "Sesuatu" banget dari Indomie? Dear pak Hazmi, Kami sudah melakukan pengecekan dengan client kami dan client kami pun sedang mengecek ke pihak internal mereka karena pengiriman barang berupa produk Indomie ini dilakukan langsung oleh client kami. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini pak, kami akan segera mengabarkan hasil pengecekan pengiriman produk ini ke bapak. Terima kasih, Henny

------------

From: Hazmi Srondol [hazmi.srondol@yahoo.com]

Sent: Friday, December 02, 2011 10:44 AM

To: Sihombing, Henny (JKT-LWW) Cc: Karina, Fiki (JKT-LWW)

Subject: Bls: "Sesuatu" banget dari Indomie? .....

pengiriman barang berupa produk Indomie .... E, maksud anda saya mau dikirimi dus Indomie begitu yah? Wah LUAR BIASA sekali 'sesuatu'nya? Pasti akan menjadi konsumsi media yang sangat heboh, perusahaan sekelas INDOMIE menghargai karya tulisan yang dijadikan iklan dan menyebar ke banyak media lain dan tanpa ijin 'hanya' dengan produk Indomie.

Mungkin bagi LOWE, penulis sudah begitu miskinnya hingga tidak mampu membeli indomie sendiri. WOW! LUAR BIASA!

---------

From: "Sihombing, Henny (JKT-LWW)" [Henny.Sihombing@loweandpartners.com]

Date: Fri, 2 Dec 2011 23:32:06

To: Hazmi Srondol [hazmi.srondol@yahoo.com]

Cc: Karina, Fiki (JKT-LWW) [Fiki.Karina@loweandpartners.com]; Suwanto, Wawa (JKT-LWW)[Wawa.Suwanto@loweandpartners.com]; Wihodo, Hanna (JKT-LWW)[Hanna.Wihodo@loweandpartners.com]; Andriana, Wina (JKT-LWW)[Wina.Andriana@loweandpartners.com]

Subject: RE: "Sesuatu" banget dari Indomie? Dear pak Hazmi, Segala sesuatu yang berhubungan dengan hadiah adalah keputusan klien dan bukan dari Lowe pak. Untuk lebih lanjut dan jelasnya pihak klien kami yang akan menghubungi bapak. Terima kasih, Henny

---------

Dari: hazmi SRONDOL

Kepada: "Henny.Sihombing@loweandpartners.com"

Cc: "Fiki.Karina@loweandpartners.com" ; "Suwanto, Wawa (JKT-LWW)" ; "Wihodo, Hanna (JKT-LWW)" ; "Andriana, Wina (JKT-LWW)"

Dikirim: Sabtu, 3 Desember 2011 12:55

Judul: Re: "Sesuatu" banget dari Indomie?

Maksudnya Klien disini apa yah? Tolong sebut dengan jelas. Indomie kah? Indofood kah? Tolong segera jawab, karena sudah banyak yang ingin tahu 'sesuatu' nya untuk kami reportase dan posting di blog.

---------

Ya aku kalah. Aku bodoh dan tersudut. LOWE melemparkan bola dan membuang badan ke klien nya. Klient yang tidak dijelaskannya lagi siapa yang bertanggung jawab atas program kampanye CERITA INDOMIE tahun 2011 itu.

Kampanye yang telah menghantarkan Indomie meraih penghargaan sebagai brand yang paling di bicarakan di sosial media tahun 2011.

Sedangkan aku hanya bisa gigit jari melihat tarian dan pesta kesuksesan INDOMIE dan LOWE. Dan lebih menyayat hati. Semenjak email terakhir bulan Desember 2011 itu, hingga tahun 2012 belum juga datang 'sesuatu' tersebut. Hingga akhirnya istriku menemukan salah satu alamat email dengan domain ....@loweandpartner.com di salah satu milis yang aktif diikutinya.

Desakan dan pertanyaan istriku membuat mereka akhirnya mengirimkan sesuatu itu sekitar pertengahan tahun 2012. "sesuatu" yang datang digotong kurir dari mobil box Indomie. SESUATU yang berupa tiga DUS INDOMIE!!!

dus yang sudah terbuka dan dilakban ulang dengan selotip.

Sungguh aku merasa terhina, aku merasa tulisanku di NISTAKAN dengan cara ukur "sesuatu" dari Indomie ini. Aku merasa seperti dianggap pengungi korban banjir atau kebakaran. Lalu aku tolak dan suruh pulang kurir tersebut. Dan langsung di rumah dan keluarga kami, walau belum jelas mengandung BABI atau tidak-Indomie sudah kami HARAM-kan ada di dalam rumah kami.

Dan hingga akhir tahun 2012, kisah ini aku tahan dana ku simpan baik baik. Aku sempat jadikan hal ini sebagai pelajaran atau 'biaya kebodohan' ku. Namun, semenjak makin maraknya kasus artikel penulis buku, penulis cerpen, penulis puisi dan blogger yang dicuri dan dinistakan, walau berbeda gaya dan modus namun pasti sakit hatinya hampir serupa denganku seperti mas Ahmed Tzer Blezinsky, mbak Elizabeth Murni dan mas Dzukdikar dengan brand GuruBimbelnya.

Aku mendadak menjadi ingat kata seorang sohib di twitter yang berkata kurang lebih "Rusaknya negeri ini bukan hanya karena banyaknya pemimpin yang dzolim, tetapi karena DIAM nya orang-orang yang pintar".

E.. Bukan maksud saya mengatakan bahwa saya pintar loh ya, kalau pintar tentu tidak akan terpedaya dan terhinakan tulisannya seperti ini. Saya hanya merasa bahwa banyak teman-teman penulis buku, jurnalis dan blogger yang sesama hidup di atas tarian pena dan ketukan keyboard nya pasti akan mengerti bahwa hal seperti ini tidak pantas di diamkan.

Dan jikalau harus menuntut lewat ranah hukum, yaelaah... apalah arti nama Hazmi SRONDOL di banding perusahaan sekelas pemilik INDOMIE dan LOWE ini. Dana yang tak terbatas dan nama besarnya tentu cukup dengan kekuatan seujung kuku nya mampu membuat saya jungkir balik masuk ke penjara.

Walau ada kawan bilang, "Nggak papa mas kalau masuk penjara, ntar aku tengokin kok. Sambil tak bawain Indomie".

Gubrak! Ya sudah, lebih baik saya berbagi kisah ini sebagai pembelajaran bagi saya dan teman-teman penulis kreatif untuk tidak cepat gede rasa (kayak saya) sehingga mudah terhipnotis dengan kata-kata rayuan 'sesuatu' yang di rumah saya sudah saya HARAM kan ini.

Sembari menunggu mediasi oleh kunsultan hukum LOWE, mediasi yang masih juga susah menghadirkan INDOMIE untuk bertemu langsung dengan saya. Kesusahan dan kesombongan yang wajar untuk perusahaan besar sekelas INDOMIE.

Kalau saya yang sombong barulah tidak pantas. Dan sembari menulis postingan ini, saya berdoa supaya Indomie tidak melakukan kebohongan. Cukuplah kebohongan mereka hanya pada bungkus Mie Instannya, bungkus yang tampak ada mie dan ayam goreng serta sayur mayurnya, namun ketika di buka, isinya cuman mie kering dan bubuk bumbunya.

Amiin ya Robbal Alamiiin.

[Jakarta, 20 Februari 2013]

Catatan : Alhamdulillah masalah ini sudah SELESAI. Untuk artikelnya, silahkan baca berikut ini :

http://www.hazmisrondol.com/indomie-meminta-maaf-kompensasi-lebih-dari-200-milyar/

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/02/28/indomie-meminta-maaf-kompensasi-lebih-dari-200-milyar-533046.html

Hujan Meteor dan Keris Empu Gandring

Posted on Sabtu, 16 Februari 2013 Tidak ada komentar
Hari ini, berita hujan meteor yang terjadi di kawasan Ural, Rusia menjadi berita yang paling menghebohkan. Bukan hanya di koran-koran namun hampir semua jejaring sosial media juga tak luput membicarakannya.

Menurut NASA dan LAPAN, meteor yang jatuh di Rusia tersebut adala salah satu jenis meteor (kecil) seberat 10 ton yang pecah dan hancur akibat gesekan udara saat berbenturan dengan atmosfir bumi. Pecahan yang jatuh dengan kecepatan 20 Km per detik ini, akan mengahsilkan dentuman keras yang getarannya mampu memecahkan kaca rumah dan menghidupkan alarm mobil seketika. Tak heran 900 an warga sekitar lokasi jatuhnya meteor ini terluka oleh efek tidak langsung dari hujan meteor ini.

Kejadian hujan meteor ini, disatu sisi memang mengundang kesedihan namun disatu sisi terdapat dua golongan manusia yang malah memburu kejadian tersebut. Golongan pertama adalah para astronom dan golongan kedua adalah Empu (pandai besi) pembuat keris jaman dahulu.

Ya, menurut cerita bapak saya, para Empu ini sangat terobsesi untuk mendapatkan pecahan batu meteor ini. Para empu ini sering kali berpuasa atau bersemedi terlebih dahulu untuk meningkatkan frekuensi tubuh dan jiwanya agar menjadi radar alami untuk menuntun ke lokasi tempat jatuhnya meteor-meteor ini. Bahkan mereka sering mendatangi  daerah yang konon sedang terjadi ‘pagebluk’ atau wabah dadakan yang menyebabkan suatu kampung mendadak banyak warganya meninggal dunia.

Batu yang diburu para empu ini disebut sebagai ‘watu lintang’ atau di terjemahkan menjadi batu bintang ini merupakan bahan dasar pembuatan keris  yang sakti. Tak hanya sekedar untuk membentuk pamor keris yang indah namun campuran besi dan batu bintang mampu membuat keris menjadi sangat keras.

Jika dibandingkan dengan pisau Damaskus yang legendaris, walau sama-sama menghasilkan pamor yang indah, pisau damaskus yang terbuat dari campuran besi, perunggu dan karbon—keris mempunyai kelebihan tersembunyi. Jika pisau damaskus menghasilkan pisau kuat, keras dan tajam maka kelebihan keris  itu muncul dari efek batu bintang yang ternyata sangat beracun, beracun tanpa perlu merendam keris tersebut dalam racun arsenic atau sebangsanya. Tak heran, siapapun yang tergores keris ini, korban akan langsung cepat meregang nyawa.

Dan setelah tahu efek beracun keris yang pamornya dibuat dari batu bintang, akhirnya saya mengerti mengapa setelah adanya isyu terjadinya pagebluk setelah suatu daerah terlihat benda bercahaya jatuh kebumi yang disertai suara dentuman, akhirnya racun-racun  yang tersebar di daerah tersebut bisa merengut korban warga disekitarnya.

Namun, ada satu kejadian lagi perihal hujan meteor yang menjadi pertanyaan besar buat saya. Kejadian itu adalah kisah Ponari yang juga konon mendadak menjadi sangat sakti setelah tanpa sengaja kapalanya terkena pantulan meteor yang jatuh ke bumi.

Entahlah, otak ini belum mampu membongkar lebih banyak lagi soal kejadian alam ini. Padahal, jika banyak referensi yang didapat, siapa tahu saya punya banyak materi untuk membuat kisah seru seperti komik “Pedang Bintang” yang berkisah tentang sebuah shinken (pedang Samurai) yang sangat tajam, keras dan tak terkalahkan. Shinken yang naya bisa dikalahkan oleh shinken serupa yang berbahan dasar campuran besi serta batu bintang lainnya. Sebuah komik menarik karya Takeshi Maekawa, komikus idola saya saat kecil dulu yang pernah membiusku dengan cerita legendaris Kung Fu Boy nya...

1360959946857097591



[Hazmi Srondol]

Pengalaman Perbaikan Focusing Screen Canon EOS 1100D di Datascript (Canon Service Centre)

Posted on Sabtu, 05 Januari 2013 Tidak ada komentar
“Kenapa kameranya, pak?” kata istriku penasaran melihatku berulang kali mengintip lubang intip (prisma viewfinder) kamera DSLR kesayanganku itu.

“Ada debu nempel di dalam kameranya, Buk” jawabku dengan perasaan gundah.

“Bawa ke sercive centre nya saja pak” saran istriku hati-hati.

“Nggak usah lah, engineer gini kok gampang menyerah. Dikit-dikit service, mahal biayanya. Ntar bapak bersihin sendiri aja, Buk” kataku menjelaskan.

Mendengar kata ‘biaya mahal’, langsung membuat istriku terdiam dan ngloyor pergi menjauh. Maklum saja, namanya juga menteri keuangan rumah tangga—soal duit itu segalanya, termasuk penghematannya.

Penghematan itu jua lah yang sejak setahun yang lalu akhirnya aku membeli kamera DSLR merk Canon 1100D. Kamera yang rencananya akan aku pakai untuk membuat short movie atau film pendek. Maklum, setelah lama blogging lewat tulisan dan sudah menghasilkan sebuah novel komedi “Srondol Gayus Ke Italy”, aku berfikir untuk mencoba bidang lain dalam dunia blogging. Harus bisa membuat cerita atau reportase versi audio visual atau lebih gampangnya disebut video.

Kamera yang aku beli itu sebenarnya kelasnya merupakan entry level dengan harga yang terjangkau. Waktu aku membeli, harganya masih sekitar 4,5 juta. Namun dengan harga yang termurah, bukan berarti hasilnya murahan. Sebenarnya aku ingin sekali membeli Canon dengan seri 7D, tetapi istriku menolak keras. Menurutnya, dengan anggaran sebesar 15 juta rupiah—aku bisa membeli kamera sekaligus aksesoris dan perlengakapannya.

Dan memang benar kata istriku ini, dengan anggaran seharga Canon 7D—aku bisa membeli sebuah kamera DSLR lengkap dengan lensa kit (18-55mm) ditambah dua lensa fixed 50mm/f1.8 dan lensa zoom Sigma 70-300mm serta seperangkat monitor TV LCD 7” untuk memperjelas tampilan ketika main DSLR video beserta tetek bengeknya seperti recorder digital stereo ZOOM H1, pistol grip, tripot, monopot dan spider rig.

Untuk aksesoris monitor TV 7” ini ada seorang kawan yang menanyakan, kenapa mesti memakai monitor segede Gaban ini? Lha iyalah, namanya mata sudah mulai tua. Hehehe. LCD viewfinder 2,7” atau 3” masih tidak cukup jelas dilihat, apalagi untuk capture video yang waktu jepretnya lebih lama dan melelahkan mata daripada memfoto.

Oh ya, awalnya aku sendiri kurang yakin, apakah dengan kamera entry level ini akan menghasilkan video yang baik dan bagus. Namun setelah mencoba, terbukti kamera ini hasilnya sudah sangat keren untuk ukuranku sendiri. Apalagi setelah rencana membuat short movie diundur karena ternyata banyak sekali faktor pendukung yang belum siap untuk aku lakukan seperti team, ijin lokasi shooting, alih cerita ke skenario hingga aktor-aktor gratisan yang susah didapat. Akhirnya, dengan segala keterbatasan, ide dialihkan ke dunia reportase video yang bisa dilihat hasilnya di channel youtube-ku di SINI.

13572503281395986421

Aksi Video Blogging dengan Canon EOS 1100D


 

Dari sekitar 50 an video awal-ku, 75% diantaranya merupakan hasil capture dengan kamera ini. Sisanya merupakan video dari kompilasi foto atau capture dari Blackberry dan Android phone. Hasil memuaskan pun  kudapat. Pilihanku benar, kalau sama-sama belum bersensor Full Frame seperti Canon 5D, lebih baik memakai kamera ini, toh kelas yang diatasnya (550D, 600D, 650D, 60D atau 7D) dan lebih mahal toh sama-sama  yang mempunyai sensor APC-S dan processor DIGIC 4—cuman bedanya seri APS-C yang lain sudah CMOS yang bisa full HD sedangkan seri 1100D ku baru ke taraf HD.

Perbedaan ini pun hampir-hampir tidak terlihat, apalagi sebagian besar hasil video diunggah ke Youtube atau di convert ke VCD. Mungkin jika sudah di tayangkan ke layar lebar di bioskop akan mulai sedikit terlihat bedanya. Walau pun aku yakin, tidak banyak yang tahu bagaimana membedakannya. Toh soal kualitas hasil juga tergantung ketepatan memilih alur cerita/reportase, lensa, audio dan tentu saja editing nya. Untuk editing reportase yang membutuhkan kecepatan editing, aku lebih memilih memakai Corel Video Studio Pro X5.

Dan kelebihan utama kamera Canon EOS 1100D dibandingkan ‘kakak-kakak’ nya yang sama-sama bersensor APS-C adalah hampir tidak adanya isyu OVER HEATING atau kamera DSLR mati mendadak karena kepanasan. Belum lagi daya tahan baterai yang lebih lama. Cocok untuk blogger video yang mobilitasnya tinggi dan anggaran membeli batarai cadangan disunat istri. Hihihi...

Kemudian, setelah melihat banyaknya hasil video yang aku buat aku sempat mencoba melobby istri untuk upgrade ke kamera bersensor full frame seperti Canon 5D Mark III atau versi down-grade nya Canon 6D. Namun sayangnya, proposal ini ditolak dengan alasan sederhana—selama belum ada sponsor dan belum menghasilkan tambahan pemasukan, apalagi hanya untuk hobby mendingan pakai saja senjata yang sudah ada. Iya deeeeh booos...

Nah, saking seringnya memakai kamera ini untuk membuat video termasuk gonta-ganti lensa—tak sadar debu pun iseng masuk ke dalamnya. Hal ini baru aku sadari setelah saat malam tahun baru aku mencoba menggunakan kamera ini untuk memfoto kembang api. Alamak paniknya, satu titik debu dan beberapa titik halus lainnya tampak dari lubang intipnya. Dari hasil cek hasil fotonya di komputer ternyata tidak ada masalah. Dugaanku debu ini menempel di bagian yang bernama focusing screen.

Dengan semangat ‘engineer’, aku mencoba browsing di internet cara membersihkan bagian itu. Dengan gagah berani, aku coba semprot dengan Dust Off yang iasa aku pakai untuk membersihkan optik perangkat telekomunikasi. Hasilnya nihil, debu masih mesra menempel di focusing screennya. Alhasil, dengan hati-hati aku coba copot sendiri focusing screennya—menyontek arahan di situs internet. Sayang seribu sayang, bukannya tambah bersih. Malah makin kotor gara-gara FS nya mungkin tersenggol sesuatu saat dimasukan kembali ke kameranya.

Dengan badan gemetaran, pagi pagi aku coba twit akun twitter @Canon_Indonesia dan mengibarkan bendera putih atas keisenganku yang luar biasa ini. Aku pun akhirnya menelepon Datascrip – Canon Service Centre Bekasi. Alamak, memang sih harga spare partnya cukup murah, hanya 30 ribu namun biaya pasangnya 175 ribu. Dan itu pun, spare part nya belum ada, mesti ke pusatnya di Jakarta.

Dengan gontai, akhirnya saing hari (2/2/2013) aku mengajak anakku ke Datascrip (Canon Service Centre) di daerah komplek Mangga Dua, tepatnya di Ruko Grand Boutique Center Blok B no 3-4, Jl Mangga Dua Raya, Jakarta.

Setelah mengambil nomor, akhirnya aku pun segera menjelaskan permasalahan yang menimpa kamera kesayangan ini beserta menunjukan kartu garansi yang sebenarnya sudah lewat masanya dua minggu dari jadwal. Harap maklum, bagi kamera Canon yang tidak memakai kartu garansi dari datascrip ini akan di kenakan biaya service dua kali lipat dari tarif normalnya. Aku dengan ikhlas menerima apa pun biaya yang harus di keluarkan.

Mungkin karena ikhlas akan menghadapi resiko biaya, aku tidak terlalu stress saat mbak Customer Service bilang kalau akan mengganti focusing screen harus sekalian dibersihkan sensornya. Dan dengan sopan mbak CS nya menyampaikan progres kerjanya adalah membersihkan sensor, body dan finder beserta menganti focusing screennya itu sendiri.

“Jadi biayanya kena berapa mbak” kataku lemas sambil menahan nafas.

“Rp. 30.800,00 pak” jawabnya

“Hah? Serius mbak?” kataku girang namun masih tidak percaya.

“Iya, pak. Bapak cukup bayar spare part nya saja” jelasnya sambil tersenyum.

“lha garansinya gimana? Kan sudah habis mbak?” kataku masih belum yakin.

“Kami beri toleransi 1 bulan, pak. Garansi bapak baru terlewat dua minggu jadi masih bolehlah berlaku” jelasnya kali ini yang membuat badanku serasa ringan seperti kapas. 30 reboo gitu looh!

“Jadi, bapak mau di tunggu atau di tinggal kameranya pak?” tanya mbak CS yang langsung aku jawab aku akan menunggunya dan jawabanku ini di balas dengan stempel QUICK SERVICE berwarna merah di lembar Surat Perintah Kerjanya.

13572506431404102692

Datasrip - Canon Care Centre Jakarta


 

Tak masalah bagiku jika harus menunggu dua jam di tempat service Canon ini. Lha bagaimana tidak masalah, wong tempatnya sejuk ber AC. Sudah begitu tersedia kopi Nescafe, coklat Milo, teh susu yang bisa kita ambil sendiri di alat nya sendiri. Mau sholat dan ke toilet juga tersedia ruangannya. Bawa anak seperti Thole yang super aktif ini juga tidak masalah, di pojokan ruangan tersedia meja bermain yang puas diobrak-abrik Thole. Wah, serasa di rumah sendiri rasanya. Saking serasa di rumahnya, kami sempat tertidur di sofa empuk setelah perut terisi Milo hangat.

Saat terbangun, jam sudah menunjukan pukul 16.10. Lalu aku pun segera menuju ke mbak CS sebelumnya. Tak lama, datang lah kamera Canon EOS 1100D kesayangan tersebut yang di bungkus plastik rapi.

“Dimana bayarnya mbak” kataku sambil menabut dompet di celana.

“Nggak jadi bayar, Pak” jawab mbak CS

“Maksudnya?”

“Gratis, pak. Di kertas SPK nya di coret biayanya” jawabnya masih tetap tersenyum.

Aku tersenyum lebar, anakku pun juga. Ah, luar biasa sekali hari ini. Aku yang datang dengan hopeless, kini pulang ke Bekasi dengan perasaan girang luar biasa. Dalam perjalan pulang aku berdoa supaya Canon Indonesia di beri kesuksesan luar biasa di tahun baru ini dan seterusnya. Aku yakin, kebaikan akan dibalas Tuhan dengan “invisible hand” nya yang dalam teori ekonomi makro sangat besar pengaruh dan perannya dalam kesuksesan suatu usaha. Amiin.

......

“Wiuh beneran gratis tadi nih pak?” kata istriku girang.

“Beneran, Buk. Bapak jadi makin pede buat beli kamera Canon lainnya kalau mau bikin shortmovie atau film” kataku.

“hmm, emang mau beli yang mana? Yang 5D dulu itu?” katanya menjawab yang terlihat mulai berubah roman wajahnya.

“Bukan, nanggung lah. Kalau khusus buat film atau cinema, kayaknya bapak mau beli Canon C100 atau Canon C500 ajah. Toh kalau ada apa-apa aman. Sudah tahu tempat service nya” kataku menjelaskan.

“Emang berapa duit?” tanyanya sambil megerutkan dahi.

“Yang Canon C100 sekitar 70 jutaan, yang Canon C500 sekitar 300 jutaan lah” jelasku kepadanya.

“Hmm, boleh sih pak. Tapi...”

“Tapi apa, buk?”

“Tapi bapak berangkat kerja ke kantor tiap hari naik sepeda genjot dari Bekasi ke Jakarta trus makan siangnya bawa bekel, trus..... “

Tiiiiiiit, Sensor. Syaratnya kepanjangan.

-------

Twitter: @hazmiSRONDOL
Don't Miss